APA KATA PSIKOLOGI MENGENAI BERSYUKUR?

“Let us rise up and be thankful, for if we didn’t learn a lot today, at least we learned a little, and if we didn’t learn a little, at least we didn’t get sick, and if we got sick, at least we didn’t die; so, let us all be thankful.” – Buddha

Dapat dikatakan hampir semua agama memerintahkan umatnya untuk bersyukur. Namun apa kata psikologi mengenai bersyukur? Di dalam kajian psikologi, terutama psikologi positif, perasaan bersyukur selama ini telah banyak dijelaskan dalam berbagai konsep seperti sebuah emosi, sebuah sikap, sebuah watak, sebuah kebiasaan, sebuah nilai moral dan juga sebagai sebuah respon untuk mengurangi stress.

McCullough (2001), seorang peneliti yang telah banyak meneliti mengenai fenomena bersyukur mendefinisikannya sebagai detektor yang mengingatkan seseorang secara emosi, bahwa mereka telah mendapatkan keuntungan dari pertolongan orang lain, Tuhan (Teigen dalam McCullough & Emmons, 2003), hewan misalnya lumba-lumba yang menolong penyelam yang tenggelam, dan lain-lain.

Nikmat Bersyukur

Saat seseorang bersyukur atas pertolongan orang, biasanya empat hal ini yang mereka pikirkan: (a) harga yang harus dibayar oleh si pemberi kepada penerima, (b) nilai pemberian tersebut, (c) niat baik pemberi, dan (d) relasi pemberi kepada penerima –biasanya, pertolongan yang diberikan oleh seseorang yang sebenarnya tidak punya kewajiban untuk membantu akan membuat rasa syukur penerimanya lebih besar (McCullough, Kimeldorf, Cohen, 2008).

Bersyukur itu berbeda dari menghargai (appreciation). Saat seseorang mendapatkan sesuatu dari orang lain bisa saja dia menghargai pemberian itu tanpa merasa bersyukur. Tapi jika dia bersyukur, sudah dipastikan dia memberi penghargaan terhadap pemberian (Tucker dalam Fluhler, 2010).

Perasaan bersyukur juga berbeda dari perasaan memiliki kewajiban (obligation). Singkatnya, kalimat “saya harus membalas kebaikanmu” memiliki rasa yang beda dengan kalimat ”Saya bersyukur atas bantuanmu”, walaupun di masa depan orang yang mendapat bantuan sama-sama akan membalas kebaikan yang didapatkan. Perasaan memiliki kewajiban untuk mengganti pertolongan orang lain lebih dekat perasaan negatif dan tidak nyaman. Sementara perasaan bersyukur biasanya dihubungkan dengan kesejahteraan dan perasaan bahwa hidup terasa utuh (McCullough dalam McCullough, Kimeldorf, & Cohen, 2008).

Nikmatnya Bersyukur

Hal di atas juga mirip dengan perasaan berhutang budi (indebtedness) yang biasanya keluar saat si pemberi menunjukkan ekspektasi atau keinginan adanya sebuah balasan. Biasanya reaksi yang terjadi adalah stress dan keinginan untuk menghindari si pemberi. Sedangkan saat orang bersyukur, ia akan lebih cenderung untuk menolong, memuji dan berdekatan dengan si pemberi (Watkins, Scheer, Ovnicek, dan Kolts; serta Tsang; dalam McCullough, Kimeldorf, & Cohen, 2008).

Jadi apa yang bisa kita pelajari dari hal di atas? Bahwa pemberian kita dapat diartikan berbeda-beda oleh orang yang menerimanya. Jadi, ikhlaslah dalam memberi. Bagi seseorang yang mendapatkan pemberian, berprasangka baiklah saat menemukan pertolongan yang ikhlas dan bersyukurlah.

Manfaat Bersyukur

Tim peneliti McCullough dan Emmons (2003) ingin mengetahui manfaat bersyukur bagi manusia. Mereka mengumpulkan 201 partisipan dan memisahkan partisipan ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama diajak untuk bersyukur dengan menuliskan lima hal positif yang terjadi seminggu lalu. Kelompok berikutnya diajak untuk fokus kepada kerepotan dengan menuliskan lima hal negatif. Kelompok terakhir adalah kelompok netral yang diminta menuliskan lima kejadian yang signifikan di minggu lalu.

Partisipan lalu mengikuti pengukuran kesejahteraan psikologis. Kelompok “bersyukur” lebih merasa bahwa mereka memiliki kehidupan yang baik dan pandangan yang optimis mengenai minggu depan, dibandingkan kelompok dua dan tiga. Selain itu, partisipan kelompok bersyukur juga melaporkan lebih sedikit keluhan fisik dan jadi cenderung untuk menghabiskan lebih banyak waktu berolahraga.

Penelitian Masingale (dalam Fluhler, 2010) juga menemukan bahwa orang yang dapat bersyukur merasakan trauma yang lebih ringan saat sesuatu yang buruk terjadi pada mereka. Peneliti Emmons dan McCullough (dalam Fluhler, 2010) menemukan bahwa orang yang bersyukur lebih jarang menderita depresi. Hal ini dikarenakan mereka memiliki cara yang tepat untuk berhadapan dengan keadaan hidup yang menyulitkan dan lebih mampu mengingat hal-hal yang positif.

Kehidupan sosial sehari-hari pun dapat dipengaruhi secara positif oleh kebiasaan bersyukur. Perasaan bersyukur dapat memotivasi seseorang untuk membantu orang lain (perilaku prososial) dan mengurangi motivasi untuk berperilaku merusak (Emmons dan McCullough dalam Fluhler, 2010).

Orang yang bersyukur juga cenderung tidak terlalu mengejar hal materialistik. Asumsinya, karena mereka sudah bersyukur dengan apa yang telah dimiliki, maka hasrat untuk memiliki hal materiil menjadi lebih sedikit. Mereka juga tidak terburu-buru untuk mendapatkan kepuasan materiil (McCullough dan Polak dalam Fluhler, 2010).

Menurut McCullough, Emmons, dan Tsang (2002), orang yang bersyukur selain lebih banyak memiliki emosi positif dan kesejahteraan yang lebih tinggi, juga memiliki harga diri yang tinggi dan lebih mudah melihat dukungan sosial dari sekitarnya. Setelah memiliki cukup rasa syukur, orang yang sering bersyukur juga cenderung akan mudah dalam membantu orang lain dan tidak memiliki banyak rasa iri.

Perasaan bersyukur memiliki hubungan timbal-balik dengan spiritualitas. Orang yang memiliki spiritualitas tinggi lebih mudah untuk bersyukur. Sebaliknya, orang yang bersyukur juga mudah menjadi lebih relijius (Allport, Gillespie dan Young dalam McCullough, Emmons, & Tsang, 2002)

Dengan segudang manfaatnya, tentunya bersyukur sangatlah penting untuk dilakukan dalam hidup kita. Berikut adalah beberapa tips yang diberikan oleh Emmons di dalam tulisannya di Challenge in Good Health bulan Desember 2010 :

  1. Berjanji untuk bersyukur terlebih dahulu sebelum memulai sesuatu.
  2. Membuat jurnal rasa syukur. Setiap harinya catatlah 3 hal yang kita syukuri.
  3. Gunakan pengingat visual seperti foto dari orang yang disayangi atau pemandangan alam yang indah untuk membawa perasaan bersyukur ini.
  4. Rasakan semua inderamu bekerja. Hargai tubuh fisikmu dan banyak fungsinya yang menakjubkan. Bersyukurlah atas kemampuan untuk melihat, mendengar, berjalan, makan dan lain sebagainya.
  5. Perhatikan bahasa yang kamu gunakan. Pembicaraan positif akan meningkatkan perilaku bersyukur sementara pembicaraan negatif akan menurunkan tingkat bersyukur dan menciptakan ketidakbahagiaan.
  6. Biasakan dirimu untuk membuat orang lain tahu bagaimana kamu berterima kasih dan menghargai mereka setiap harinya. Bukan hanya akan meningkatkan kebahagiaanmu, tapi juga dapat membuat orang tersebut bahagia mendengar penghargaannmu.
  7. Tulis dan sampaikan sebuah surat penuh rasa syukur ke seseorang yang telah memiliki dampak positif di dalam hidupmu. Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa satu kali saja melakukan ini dapat menyebabkan perasaan positif untuk lebih dari sebulan.
  8. Berpikir di luar kotak. Pikirkan daftar ha-hal yang mungkin selama ini tidak terlihat untuk disyukuri olehmu.

Tunggu apa lagi, mari kita mulai bersyukur mulai detik ini juga. Mari kita awali dan akhiri setiap harinya dengan perasaan bersyukur!

Sumber yang dipakai :
Emmons, R. A., McCullough, M.E, & Tsang J. (2002). The Grateful Disposition: A
Conceptual and Empirical Topography. Journal of Personality and Social Psychology. Vol. 82(1), pp 112–127
Fluhler, D.B. (2010). Gratitude Theory: A literature review. Diakses pada 7 Januari
2014 dari media.wix.com

McCullough, M.E & Emmons, R. A. (2003). Counting Blessings Versus
Burdens: An Experimental Investigation of Gratitude and Subjective Well-Being in Daily Life. Journal of Personality and Social Psychology. Vol 84 (2), pp 377-389.

McCullough,M.E., Kimeldorf, M.B, Cohen, A.D. (2008). An Adaptation
for Altruism? The Social Causes, Social Effects, and Social Evolution of
Gratitude. Current Directions in Psychological Science.Vol 17(4). pp 281 – 285
NextLogical Benefit Strategies, LLC. (2010). Challenge in Good Health: Gratitude
Challenge [Brosur]

Sumber: http://ruangpsikologi.com

Dapatkan Update PsychoShare.com terbaru via Twitter, Follow Kami di: