Memakai Permainan Untuk Tumbuhkan Kemandirian Anak

Dalam artikel sebelumnya, telah dijelaskan mengenai teknik pengasuhan yang dapat memupuk kemandirian anak, yaitu parental autonomy support. Keuntungan yang diperoleh anak yang dibesarkan menggunakan teknik ini adalah, diantaranya, kuat menghadapi tantangan, prestasi akademik yang lebih baik, dan perkembangan kognisi sosial yang sehat.

Untuk orang tua yang ingin menjalankan parental autonomy support, teknik ini sudah bisa dipraktekkan sejak anak berada pada usia pra-sekolah atau 3-6 tahun. Tidak perlu penerapan yang terlalu berat, teknik ini bisa dijalankan pada saat anak sedang bermain, karena bermain sebetulnya mempunyai fungsi yang sangat penting bagi perkembangan anak. Diantaranya, membantu pengembangan daya nalar, kreativitas, aspek sosial saat anak harus berbagi dengan temannya, membantu koordinasi gerakan mata-tangan (motorik halus), dan lain-lain.

Seperti apa bentuk parental autonomy support pada saat anak sedang bermain? Cukup mudah, pada saat bermain bersama anak, carilah kesempatan-kesempatan yang mengharuskan anak membuat pilihan dan tunjukkanlah penghargaan saat anak mengambil sebuah keputusan. Misalnya, mendorong anak untuk mencoba sendiri menyelesaikan “tugas” dalam permainannya seperti menyusun puzzle atau mewarnai gambar.

ibu bermain puzzle dengan anak

Saat anak menemukan kesulitan, berikan dorongan secara verbal untuk terus mencoba atau mencari penyelesaian lain. Saat anak meminta saran, coba berikan beberapa alternatif, minta anak untuk memilih salah satunya, dan tanyakan kenapa cara itu yang ia ambil. Dengarkan juga respon anak setelah anak mendapatkan saran dari orangtua.

Saat ada mainan baru yang masih asing atau masih sulit bagi anak, orangtua dapat memanfaatkan momen ini untuk memupuk kemandirian anak dengan mendorongnya untuk tidak takut mencoba. Anak juga harus didorong untuk membuat keputusan, dan orangtua perlu mendukung keputusan tersebut walaupun ternyata keputusannya salah (tentu diikuti dengan evaluasi), misalnya saat mengerjakan sebuah teka-teki.

Untuk menguatkan percaya diri anak, orangtua sebaiknya juga menunjukkan antusiasme terhadap aktivitas anak sehingga mereka tahu bahwa apa yang dilakukan memiliki arti.

Lalu, apakah semua aktivitas bermain itu sama? Apakah anak akan mendapatkan manfaat yang sama jika teknik ini dijalankan saat anak memainkan permainan elektronik dibandingkan saat memainkan permainan non-elektronik? Untuk menjawab hal ini, kita lihat penelitian kepada 61 pasang ibu-anak di Jakarta yang dilakukan oleh Wukiranuttama di tahun 2013.

Bentuk penelitiannya adalah sebagai berikut, peneliti memilih seperangkat mainan elektronik (video games) dan non-elektronik yang sama-sama menarik bagi anak. Kemudian, orang tua diminta untuk memainkan permainan non-elektronik bersama anak selama sepuluh menit. Setelah itu, permainan diganti dengan yang elektronik, juga selama sepuluh menit. Interaksi orang tua-anak direkam, setelah itu Wukiranuttama (2013) mengobservasi video rekamannya.

ibu bermain ipad dengan anak

Saat dianalisa, peneliti melihat berapa orang tua yang secara naluriah melakukan teknik parental autonomy support dan berapa besar frekuensinya. Dengan membandingkan frekuensi munculnya parental autonomy support pada kedua jenis permainan, terlihat berapa banyak orang tua yang menemukan kesempatan untuk menjalankan teknik tersebut dan menggunakannya  (Wukiranuttama, 2013).

Hasil penelitian  Wukiranuttama (2013) menunjukkan bahwa parental autonomy support pada aktivitas bermain ibu-anak dengan mainan non-elektronik lebih tinggi dibandingkan saat anak bermain mainan elektronik. Dari bentuk penerapan yang telah dijelaskan di atas, bentuk penerapan frekuensinya sama besar hanyalah pada dimensi “mendukung anak dalam membuat keputusan”. Artinya, pada dimensi lain, orangtua yang anaknya memainkan mainan elektronik lebih sedikit melakukan parental autonomy support.

Orangtua yang anaknya memainkan mainan elektronik lebih sedikit melakukan parental autonomy support.

Ada beberapa kemungkinan penyebab dari hal ini. Pertama, saat memainkan video games, perhatian anak terpusat pada layar sehingga orangtua lebih sulit untuk menangkap saat anak memerlukan saran. Lalu, karena video games biasanya sudah memiliki cerita atau peraturan khusus, cara memainkannya pun menjadi terbatas sehingga tidak memungkinkan adanya eksplorasi lebih luas. Bandingkan dengan permainan congklak yang dapat diubah peraturannya atau diubah fungsinya (misalnya, papan congklak diubah menjadi perahu dari mainan orang-orangan). Belum lagi kebanyakan video games saat ini hanya dapat dimainkan satu orang.

Kemudian, permainan elektronik memiliki sistem apresiasinya sendiri seperti tulisan “Great!”, bintang, atau skor. Orangtua jadi tak berkesempatan untuk mengekspresikan antusiasme mereka. Interaksi orangtua jadi terbatas sebagai orang yang menemani dan bukan orang yang bermain bersama anak, sebuah hal yang cukup disayangkan karena anak jadi tak bisa belajar bekerja sama atau berbagi dengan orang lain, belajar memahami emosi orang lain, atau berkomunikasi dengan orang lain.

Jadi, ternyata tidak semua jenis permainan dapat secara efektif memberikan kesempatan untuk memberikan parental autonomy support. Informasi ini bisa berguna bagi orangtua atau kakak yang ingin memberikan mainan yang memberikan manfaat bagi si kecil.

Sumber yang dipakai:

Wukiranutama, Ranggih. (2013). Perbedaan Parental Autonomy Support dalam Interaksi antara Ibu dan Anak Usia Pra-Sekolah Ketika Bermain dengan Media Elektronik dan Non-Elektronik. Depok: Universitas Indonesia.

Sumber: http://ruangpsikologi.com

Dapatkan Update PsychoShare.com terbaru via Twitter, Follow Kami di: