Empty Nest

Oleh : Jacinta F. Rini

Banyak orang tua beranggapan, tugas mereka sebagai orang tua “berakhir” sesaat setelah anak-anak pergi meninggalkan rumah, untuk menjalani kehidupan mereka masing-masing. Anggapan ini, tak urung membuat banyak dari orang tua, yang menjadi stress ketika masa itu hampir tiba. Akibatnya, masa tua menjadi masa yang “tampaknya” tidak menyenangkan, terutama bagi para ibu, yang merasa kehilangan arti atau makna hidup – setelah selama puluhan tahun, dirinya memiliki peran sentral dalam kehidupan anak-anak.

Anggapan tersebut pada dasarnya tidaklah beralasan, terutama dewasa ini di mana perkembangan dan tuntutan jaman serta modernisasi, telah membuat banyak perubahan dalam gaya atau pola hidup individu dan masyarakat hingga masa transisi yang harus dilalui oleh setiap individu, termasuk para orang tua, tidak lagi terlalu sulit untuk dilalui. Komunikasi yang semakin canggih (bisa lewat telpon, handphone, sms, bahkan email!) dan transportasi yang semakin mudah, membuat acara “kumpul keluarga” atau pun “bertemu oma opa” bukan menjadi hal yang sulit. Terlepas dari hal itu, di masa kini banyak keluarga yang menganut sistem dual career ?%u20AC%u201C artinya, baik suami maupun istri sama-sama bekerja, selain sebagai sarana mengaktualisasikan diri, namun tidak terlepas pula dari desakan kebutuhan yang makin tinggi. Konsekuensinya, para keluarga “muda” ini sering mempercayakan kembali anak-anak mereka pada orang tua. Ada pula, yang memilih untuk tinggal bersama orang tua, entah karena pertimbangan ekonomi keluarga, maupun pertimbangan lain, misalnya agar lebih bisa “saling menjaga”, antara orang tua – anak – cucu.

Fakta-fakta seputar Empty Nest

Penelitian Fingerman (seorang psikolog) yang dipublikasikan dalam Journal of Gerontology: Psychological Sciences and Social Sciences (Vol. 55, No. 2, Th. 2000) menyebutkan, bahwa ternyata apa yang dikhawatirkan para orang tua dalam masa transisi “postparental“, tidak terbukti. Mereka tidak merasakan empty-nest syndrom, seperti stress dan depresi karena kesepian dan kehampaan yang intens atau pun kehilangan makna dan gairah hidup. Riset tersebut menyebutkan, bahwa mereka – para orang tua yang di-riset, merasa lebih menikmati kebebasan, mereka pun memiliki kesempatan untuk memperbaiki dan membangun kembali hubungan yang lebih berkualitas dengan pasangan, punya waktu dan peluang lebih besar untuk melakukan hal-hal yang mereka sukai dan cita-citakan – namun selama ini tidak bisa karena terbatasnya kesempatan.

Para orang tua tersebut bahkan merasa bangga dan bahagia, ketika melihat anak-anak sanggup melangkahkan kaki, menjadi pribadi yang mandiri dan dewasa. Dan yang terpenting, hubungan antara orang tua dengan anak-anak mereka malah semakin berkualitas. Mengapa demikian? Alasannya karena berkurangnya stressor atau tekanan yang biasanya muncul ketika keduanya (orang tua – anak) tinggal satu rumah; apalagi ketika sang anak berada di usia remaja. Fakta lain yang muncul dari hasil penelitian, mengatakan bahwa masa emtpy nest justru mendatangkan manfaat lain, yaitu kembalinya hubungan yang lebih erat antara orang tua dengan saudara-saudara kandung mereka.

Penelitian terdahulu dibuat pada tahun 1980 (Antonucci, Tamir & Dubnoff, 1980), menyebutkan bahwa pada usia antara 30 – 40-an tahun, terlihat adanya peningkatan stress dan depresi di antara para wanita, justru ketika anak-anak masih di rumah. Pada saat periode empty nest tiba, stress, depresi, kecemasan dan kekuatiran malah berkurang. Dan, bahkan pada umumnya terjadi peningkatan marital satisfaction. Ketika para responden itu dihadapkan pada pertanyaan tentang masa transisi itu, mereka cenderung memberi jawaban bahwa kepergian anak (untuk menjadi mandiri), justru merupakan masa transisi yang positif dari pada negatif. Mengapa demikian? Karena para responden memiliki kesempatan dan peluang untuk kembali bekerja, kembali menekuni hobi, kembali aktif dalam organisasi, atau bahkan ada yang kembali ke sekolah.

Sementara, pihak yang merasa bahwa masa transisi itu lebih berdampak negatif, bukanlah disebabkan oleh empty nest-nya, namun lebih berkaitan dengan masalah perkawinan yang mewarnai hubungan antara suami istri dan keluarga selama ini. Penelitian yang dilakukan oleh DeVries, memperlihatkan, bahwa kegagalan anak-anak untuk menghadapi dan mengatasi masa transisi mereka sendiri (untuk berhasil mandiri dan dewasa), turut menjadi faktor yang menentukan kepuasan dan kebahagiaan orang tua di dalam menjalani periode empty nest. Kegagalan anak untuk mandiri, membuat para ibu dan orang tua merasa gagal dalam peranannya sebagai orang tua, merasa bersalah, merasa bertanggung jawab, dan enggan untuk merealisasikan rencana atau pun keinginan yang dibuat sebelumnya.

Perbedaan respon antara pria dengan wanita terhadap Empty Nest

Helen M. DeVries, PhD, adalah seorang psikolog yang juga melakukan riset tentang empty nest. Secara umum, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa periode empty-nest itu sendiri lebih dirasakan sebagai sebuah transisi yang positif, dari pada negatif. Namun, dalam penelitian itu terlihat adanya perbedaan antara wanita dengan pria, dalam merespon masa transisi tersebut. Meskipun wanita yang dikatakan punya kecenderungan lebih tinggi terhadap empty nest syndrom karena peran mereka yang lebih intens dalam membesarkan anak-anak, namun ternyata, para wanita / ibu-ibu tersebut, meski pun sehari-hari mereka adalah ibu rumah tangga, namun mereka justru menunggu “saatnya” tiba, yaitu saat anak-anak “mentas” dan menjadi pribadi dewasa yang mandiri. Para responden dalam penelitian DeVries malah terlihat sudah jauh-jauh hari merencanakan apa yang akan mereka lakukan nanti setelah anak-anak pergi; ada yang mau sekolah, kursus, bekerja kembali, atau menekuni hobi lama.

Berbeda dengan pria, mereka justru cenderung tidak memikirkan persiapan (baik persiapan aktivitas, maupun persiapan mental / emosonal) untuk menghadapi atau mengisi hari-hari ketika anak-anak pergi dari rumah. Akibatnya, ketika anak-anak benar-benar pergi, para ayah diliputi perasaan menyesal karena kehilangan kesempatan untuk terlibat lebih intens dengan anak-anak ketika mereka masih di rumah.

Kesimpulan

Peran orang tua, tidak berhenti sampai dengan anak lulus kuliah, bekerja atau ketika mereka menikah. Sebab faktanya, sekali menjadi orang tua, maka akan tetap menjadi orangtua sampai kapanpun juga. Orang tua, tetaplah orang tua bagi anak-anak meski mereka sudah dewasa dan berkeluarga, orang tua secara konsisten memberikan nasehat-nasehatnya (meski seringkali di abaikan), memberikan dukungan finansial, memberikan perhatian dan waktu untuk mengasuh dan menjaga cucu, bahkan, memberikan dirinya untuk tetap melayani anak-anak.

Pada kenyataannya sekarang ini, pihak yang makin sibuk adalah pihak orang-orang tua, karena mereka malah menghadapi multiple roles : menjadi orang tua, sekaligus menjadi kakek nenek, selain mereka juga memiliki peran dalam kehidupan sosial : kumpul dengan teman-teman, menekuni hobi dan kreativitas yang selama ini “terbengkalai”, travelling, socializing, bahkan makin aktif dalam kegiatan sosial, keagamaan dan spiritual. Jadi, empty nest – apalagi di jaman sekarang ini, seharusnya tidak lagi menjadi bahan kekuatiran bagi para orang tua. Justru, masa transisi tersebut, menjadi masa produktif berikutnya, untuk membuat hidup semakin bermakna, bernilai dan mendatangkan kepuasan batin yang dalam.

Dapatkan Update PsychoShare.com terbaru via Twitter, Follow Kami di: