Apakah Bakat Anak Saya

Oleh : Ubaydillah, AN

To Nurture The Nature  

Kesadaran sebagian orangtua untuk mengungkap bakat anaknya dewasa kini sepertinya makin meningkat. Banyak kursus-kursus talenta yang tebukti berhasil merebut hati para ibu. Bukti lain juga dapat kita baca dari sejumlah ruang konseling di media. Mulai banyak orangtua yang menanyakan apa bakat anak saya atau bagaimana mengungkap bakat pada anak. Bukan hanya Aristotle yang mengatakan bahwa semua anak kecil yang lahir ke dunia ini pasti sudah diberi bakat.  Studi para ahli pendidikan dan SDM sepertinya juga semakin gencar meyakinkan orangtua bahwa setiap anak adalah makhluk yang hebat dengan bakatnya atau kecerdasannya.

 

Secara garis besar, bakat yang dimiliki anak itu bisa kita kelompokkan menjadi dua. Pertama adalah bakat khusus. Sering disebut dengan jenius, laduni, atau gifted atau entah apa lagi nanti sebutannya. Intinya, bakat khusus ini mengarah pada pengertian adanya kekhususan yang benar-benar mengandung keistimewaan tertentu (extraordinary).

 

Si anak sepertinya didorong oleh instruksi internalnya yang mengarahkan dia untuk menjadi. Selain para nabi, Tuhan sering melahirkan anak-anak seperti ini. Ada juga dari kalangan orang dewasa yang perjalanan hidupnya luar biasa, pengaruhnya luar biasa, atau menemukan kapasitas yang luar biasa. Tuhan bisa kita sebut punya database kapan melahirkan orang yang seperti ini, dimana, dan untuk keperluan apa.

 

Kedua adalah bakat umum. Pengertiannya mengarah pada adanya potensi keunikan, kebolehan, atau keunggulan tertentu sebagai syarat mendapatkan kesuksesan dalam berperan nantinya. Secara teori, bakat yang ini dimiliki oleh semua manusia. Semua manusia pasti memiliki potensi yang kalau diasah akan membuat dia berpeluang meraih prestasi.

 

Cuma, penggolongan bakat demikian mungkin saja akan gagal menjelaskan kenyataan pada anak manusia. Ini karena manusia itu makhluk yang paling unik, tidak seperti setan atau malaikat. Orang yang berbakat khusus mungkin saja akan berubah menjadi biasa-biasa jika orangnya keliru mengelola bakat atau malah tidak dikelola. Anak yang berbakat umum mungkin menjadi berbakat khusus kalau usahanya luar biasa atau didukung oleh tangan yang luar biasa.

 

Meski anak-anak itu berbeda secara ?%u20AC?nature?%u20AC?-nya, tapi tugas orangtua tetap tidak berbeda. Tugas yang paling mendasar adalah ?%u20AC?to nurture?%u20AC?. Ibarat menyemai tanaman, tugas kita adalah merawat, menyuburkan, atau memfasilitasi perkembangannya, berdasarkan kebutuhan dan keadaan.

 

Korban Nafsu Orang Dewasa

Salah satu prinsip dalam pendidikan atau pengasuhan adalah menghindari hal-hal yang berlebihan, lebih atau kurang karena akan mendatangkan persoalan.

 

Kebaikan yang berlebihan pun sangat berpotensi menimbulkan masalah. Misalnya saja perhatian dan keinginan kita untuk mengungkap bakat anak sejak dini. Meskipun ini baik, tapi kalau berlebihan bisa jelek. Ada baiknya kita cek ulang apakah yang melandasi keinginan kita untuk mengelola bakat anak. Jangan sampai, ternyata beberapa factor di bawah ini yang menjadi daya penggerak

 

1.     Balas dendam

2.     Iri hati dan

3.     Ambisi penonjolan diri

 

Meski istilah kedendaman itu terkesan seperti sadis dan jauh, tetapi prakteknya sangat-sangat dekat dengan kita, bahkan mungkin telah kita lakukan. Banyak orangtua yang berpikir misalnya ?%u20AC%u0153karena saya tidak dibeginikan oleh orangtua saya dulu, makanya sekarang saya melakukan begini terhadap anak  saya?%u20AC?.

 

Sejauh itu kita lakukan sebagai evaluasi konstruktif, tentu ini bagus. Tetapi jika kita lakukan sebagai bentuk kedendaman yang tidak kita sadari, maka potensi keburukannya sangat tinggi. Termasuk juga dalam hal kemewahan hidup. Karena kita dulu merasakan berbagai kekurangan, maka sebagai kompensasinya, kita memewahkan anak secara berlebihan.

 

Sama juga dengan iri dengki. Kita menuntut anak agar memenuhi standar anak lain yang digerakkan oleh penolakan kita terhadap kenyataan anak kita. ?%u20AC%u0153Kenapa si dia bisa, kok kamu tidak bisa??%u20AC?, misalnya begitu. Bila penggeraknya itu untuk memotivasi atau learning from, tentu bagus. Tapi jika karena iri dan dengki, pasti ada jeleknya. Begitu juga dengan penonjolan-diri. Mengikutkan berbagai kursus agar anak bisa mengeksplorasi berbagai kebolehannya, pasti ini bagus. Tapi jika hanya untuk supaya orangtuanya punya alasan menyombongkan diri, maka keburukannya sangat dekat.

 

Hal-hal yang berlebihan itu pada gilirannya nanti dapat menempatkan anak sebagai korban nafsu orangtua. Namanya korban, pasti tidak enak, banyak keburukannya, dan dekat dengan munculnya disharmony.

 

Beberapa Ciri Anak Jenius

Kalau mengikuti hasil kajiannya Joseph Renzulli (1986), anak yang jenius itu memiliki ciri-ciri mental sebagai berikut:

 

  1. Punya kemampuan yang luar biasa (above-average) dalam bentuk kelebihan di bidang tertentu atau di bidang umum
  2. Punya kemampuan yang bagus dalam menangani suatu tugas dengan komitmen dan motivasi yang luar biasa
  3. Punya kreativitas yang luar biasa hebatnya

Dapatkan Update PsychoShare.com terbaru via Twitter, Follow Kami di: