4 Aturan Sebelum Mendisiplinkan Anak Orang Lain

Melihat seorang anak menjambak rambut adiknya sehingga hampir jatuh, atau membuang makanan di lantai karena tak suka dengan menunya, memang membuat kita gemas. Repotnya, anak itu bukan anak kita, melainkan anak seorang teman atau saudara yang dititipkan pada kita. Bisa juga Anda kebetulan melihat perilaku buruk seorang anak yang lepas dari perhatian orangtuanya.
Bila hal ini terjadi pada kita, apa yang bisa kita perbuat? Bolehkah kita menegur anak dan mendisiplinkannya? Sampai sejauh mana kita boleh mendisiplinkan anak, apalagi bila tindakannya tidak dapat lagi diterima?
Hal ini memang menjadi kontroversi. Sebagai orang dewasa, Anda mungkin tak habis pikir mengapa ada orangtua yang membiarkan anaknya bersikap buruk. Namun, di situlah letak masalahnya. Hal ini lebih kompleks daripada sekadar melihat kesalahan anak. Di dalamnya ada faktor-faktor yang melibatkan perspektif yang berbeda dari para orangtua.
Dan, faktor-faktor tersebut perlu Anda pahami sebelum mencoba ikut mendisiplinkan anak:
1. Ada tipe orangtua yang enggan mengambil risiko dengan anak-anak mereka. Sejak awal mereka telah memberitahu anak-anak mereka, perilaku seperti apa yang bisa diterima. Mereka juga selalu menjelaskan batasan-batasan pada setiap kesempatan. Tujuannya untuk memastikan bahwa mereka membesarkan anak yang mentaati harapan-harapan yang diyakini orangtua akan membantu si anak berkembang.
Di lain pihak, ada juga tipe orangtua yang tak mau campur tangan. Mereka menganggap anak perlu belajar dari kesalahan. Dengan menerapkan pola pengasuhan seperti ini, orangtua ingin memastikan anak mematuhi aturan orangtua dengan bijaksana, dan sesekali memberikan pilihan pada anak untuk melakukan yang sebaliknya. Bila terjadi hal yang negatif, mereka yakin itu akan menjadi pelajaran berharga untuk anak.
2. Orangtua sebenarnya bebas menentukan batasannya sendiri untuk anak-anak mereka. Ada orangtua yang meyakini anak untuk selalu mengikuti kata orangtua. Ada juga yang berpikir bahwa ketidaksepakatan justru akan merangsang pertukaran ide yang sehat. Orangtua yang lain membiarkan anak-anaknya makan sambil mengangkat kaki di kursi, ada juga yang menentang habis-habisan perilaku semacam itu.

3. Mengarahkan anak secara verbal dengan masuk akal, tenang, dan menetapkan aturan time-out, menjadi pilihan sebagian orangtua. Namun orangtua lain mungkin menganggap cara mereka mengasuh tak perlu dijelaskan kepada anak. Anak cukup mematuhinya saja, sehingga ketika anak menunjukkan perilaku yang buruk, orangtua tidak perlu mendengarkan alasan-alasannya. Kemudian, orangtua lainnya mendukung penggunaan hukuman fisik sebagai cara untuk mengarahkan kembali perilaku anak. Tetapi jika Anda memukul pantat anak yang orangtuanya tidak sepakat dengan hukuman fisik, orangtua ini akan menganggap pukulan Anda sebagai kekerasan pribadi terhadap anaknya.

4. Sebagian orangtua merasa bahwa merekalah satu-satunya yang harus bertanggung jawab pada anak-anak mereka. Sedangkan orangtua yang lain membutuhkan dukungan orang lain untuk membesarkan seorang anak. Masalahnya, apakah orang-orang dewasa yang ada di sekitar anak juga bertanggung jawab membentuk pemahaman anak mengenai apa yang baik dan buruk? Bila dua tipe orangtua ini saling berhadapan, orangtua yang menganut tanggung jawab penuh pada anak akan merasa hak-hak pengasuhannya diabaikan atau dirampas. Sebaliknya, jika tipe orangtua yang butuh dukungan orang lain ini saling bertemu, mereka cenderung akan berterima kasih karena ada yang ikut mendisiplinkan anak mereka.

Apapun yang terjadi, sebenarnya selalu ada solusi. Misalnya Anda dititipi seorang anak oleh teman atau saudara, lalu si anak menunjukkan perilaku yang tidak bisa Anda terima. Maka hal terbaik yang bisa Anda lakukan adalah dengan tenang menjelaskan pada anak tersebut bagaimana ia harus bersikap bila sedang bersama Anda. Anda mempunyai hak untuk memperkuat batas-batas yang sudah Anda tetapkan di rumah, meskipun batas-batas tersebut berbeda dengan pengalaman si anak di rumahnya sendiri.
Dalam memperkuat batasan-batasan tersebut, gunakan metode yang sehalus mungkin untuk menyampaikan perilaku yang Anda harapkan. Bila ada masalah keamanan yang mendesak, metode yang halus mungkin tidak cocok. Sebagai gantinya, gunakan metode perintah paling cepat jika ada risiko kerusakan atau kerugian yang segera terjadi.

Yang perlu Anda ingat, apapun metode Anda, Anda tak akan pernah bisa mendapat persetujuan dari orangtua si anak. Ini merupakan topik yang kontroversial, dan tidak ada yang benar atau salah. Sebagai orangtua, Anda tentu sudah berusaha membuat keputusan yang terbaik, dan mengantisipasi setiap hasilnya. Sadari bahwa Anda mungkin akan menyinggung perasaan orangtua si anak karena ia tak sepakat dengan cara Anda mengasuh anaknya.

sumber : http://female.kompas.com

Dapatkan Update PsychoShare.com terbaru via Twitter, Follow Kami di: