Parafilia

Penulis: Aulia Fanny Kurniasari

 

 

Apa itu parafilia? Parafilia  merupakan suatu gangguan abnormal yang berupa perilaku atau impuls seksual abnormal ditandai dengan fantasi seksual yang intens dan dorongan serta perilaku yang melibatkan objek, aktifitas, atau situasi yang tidak sesuai dengan perilaku seksual normal pada orang lain. Perilaku parafilia dapat menyebabkan masalah pribadi, sosial, dan karir bahkan perilaku terkait juga mungkin memiliki konsekuensi sosial dan hukum yang serius.

Ada beberapa macam perilaku yang termasuk parafilia yang terdapat pada DSM-V, antara lain Exhibitionism, Voyeurism, Fetishism, Frotteurism, Pedophilia, Sexual Masochism, Sexual Sadism, dan Transvestitism.

  1. Exhibitionism

Exhibitionis merupakan perilaku seeseorang yang menunjukan alat kelaminnya pada orang yang tidak dikenalnya. Individu dengan gangguan ini, seringkali disebut “Flasher”, mereka merasa butuh untuk membuat korbannya merasa terkejut, kaget, atau hanya untuk terlihat mengesankan. Hal yang membuat pelaku exhibitionis tersebut mencapai kepuasan seksual bukan karena ia memperlihatkan alat kelaminnya, melainkan karena ekspresi dari korban yang langsung terkejut atau takut.

Hal yang perlu dihindari ketika bertemu dengan orang yang mengalami exhibitionis adalah………………

 

  1. Voyeurism

Orang dengan voyeurs mendapatkan kepuasan seksual dari “mengintip” orang yang sedang membuka bajunya, ataupun “mengintip” pasangan yang sedang melakukan hubungan seksual. Rasa ingin tahunya yang dalam membuatnya ingin selalu melihat secara diam-diam akan bagian tubuh orang lain, ataupun aktivitas seksual yang sedang dilakukan orang lain tanpa izin. Beberapa voyeurs memuaskan hasratnya dengan menyewa film porno, tetapi kebanyakan voyeurs tidak puas dengan tersebut karena gairah mereka terpuaskan oleh ketidaktahuan korban akan dirinya sedang diintip.

 

  1. Fetishism

Orang dengan perilaku fetish memiliki dorongan seksual dengan benda mati/objek yang tidak hidup, mereka akan terangsang dengan cara memakai atau menyentuh objek tersebut. Contohnya, objek fetish bisa berupa pakaian, pakaian dalam, pakaian yang dicuri/punya orang lain, sepatu wanita atau pakaian dalam wanita.

Saat orang yang mengalami fetish menjadikan satu-satunya objek dalam hasrat seksual, hubungan seksual dengan pasangannya seringkali dihindari. Gangguan yang terkait rangsangan seksual fetish juga dapat timbul dari bagian tubuh tertentu, seperti kaki, mata, dan payudara wanita.

 

  1. Frotteurism

Individu dengan gangguan ini, dorongan seksual timbul dengan menyentuh atau menggosokkan alat vitalnya (baik laki-laki ataupun perempuan) pada orang lain/orang yang tidak dikenal. Banyak kasus dalam Frotteurism, pria mendekatkan area genital pada wanita di tempat keramaian, ketika orang sulit mellihat. Seperti di kereta, bis, saat konser, dan di jalanan yang padat.

 

  1. Pedophilia

Orang dengan pedofilia memiliki fantasi, dorongan, atau perilaku yang secara ilegal melibatkan aktifitas seksual dengan anak-anak. Anak-anak yang menjadi korbannya berkisar umur 13 tahun atau lebih muda lagi. Perlakuan yang dilakukan pada anak-anak termasuk menanggalkan pakaian anaknya, memaksakan anak-anak untuk melihat film porno, memegang alat vital, dan melakukan tindakan seksual pada anak-anak.

Beberapa orang dengan pedofilia, hanya tertarik pada anak-anak dan tidak tertarik pada orang dewasa. Beberapa perbuatannya dilakukan pada anaknya sendiri atau yang masih memiliki hubungan dekat. Korban lainnya adalah anak-anak yang ada di wilayahnya. Predator pedofilia melakukan pemaksaan dan pengancaman pada korbannya, jika korban membongkar atau memeberitahu perbuatan yang dilakukan padanya pada orang tuanya.

Kegiatan pedofilia merupakan salah satu tindak pemerkosaan dan merupakan tindak kejahatan yang tergolong berat dengan hukuman penjara seumur hidup.

 

  1. Sexual Masochism

Individu dengan gangguan ini menggunakan tindakan -secara nyata- dengan memaki, memukul, atau perlakuan penyiksaan untuk mencapai gairah seksual dan klimaks. Perlakuan yang diterima mungkin terbatas pada makian secara verbal, atau mungkin juga dengan pukulan, ikatan, atau perilaku kasar lainnya. Bisa juga, individu masokis melakukan fantasi seksualnya dengan dirinya sendiri dengan cutting, mem-percing kulitnya, atau membakar dirinya.

Keadaan fatal yang dapat terjadi pada aktivitas masokis dan berpotensi berbahaya adalah autoerotic asphyxiation parsial. Dengan kegiatan ini, seseorang menggunakan tali, nooses, atau kantong plastik untuk menginduksi keadaan asfiksia (gangguan pernapasan) pada titik orgasme. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan orgasme, tapi kematian disengaja kadang-kadang terjadi.

 

  1. Sexual Sadism

Individu dengan gangguan ini memiliki fantasi terus menerus dimana  rangsangan seksual dari menimbulkan penderitaan secara fisik ataupun psikologis (termasuk menghina dan teror) pada pasangannya. Gangguan ini berbeda dari perilaku agresi pada aktifitas seksual yang normal. Dalam beberapa kasus, sadis seksual dapat menemukan mitra yang bersedia untuk berpartisipasi dalam kegiatan sadis.

lebih ekstream, pelaku sadism bisa melakukan pemerkosaan, penganiayaan, bahkan pembunuhan.

 

  1. Transvestitism

Waria, atau fetisisme transvestic, mengacu pada praktek oleh laki-laki heteroseksual berpakaian dalam pakaian wanita untuk menghasilkan atau meningkatkan gairah seksual. Gairah seksual biasanya tidak melibatkan pasangan nyata tetapi mencakup fantasi bahwa individu adalah pasangan wanita juga. Beberapa pria hanya memakai satu bagian khusus pakaian wanita, sementara yang lain sepenuhnya berpakaian seperti perempuan, termasuk gaya rambut dan make-up.

 

Apa penyebab parafilia?

Belum diketahui dengan pasti apa yang menyebabkan parafilia. Beberapa peneliti percaya hal tersebut dikarenakan trauma masa kecil, seperti pelecehan seksual / kekerasan. Pendapat lain mengatakan objek atau situasi dapat menimbulkan hasrat seksual jika dilakukan berkali-kali dan berulang (individu merasa puas/senang ketika melakukannya). Dalam kebanyakan kasus, individu dengan paraphilia memiliki kesulitan mengembangkan hubungan pribadi dan seksual dengan orang lain.

Banyak individu dengan prafilia memulai kebiasaan anehnya pada saat remaja dan terus berlanjut hingga dewasa. Intensitas dan fantasi yang berhubungan dengan parafilia setiap orang berbeda-beda, tapi seringkali kebiasaan tersebut akan menurun  dengan bertambahnya usia.

Mun, banyaknya penderita parafilia membuat peneliti akhirnya membuat suatu penelitian berupa kemungkinan-kemungkinan penyebab untuk mengetahui gangguan ini. penelitian yang di publikasikan dari tahun 1990-2010 mengenani gangguan in dapat, faktor terbesar ada dua, yaitu:

  1. Faktor neorobiologi

Mayoritas gangguan parafilia ini adalah laki-laki yang memiliki tingkat hormon androgens (seperti hormon testoteron). Hormon androgen mengatur hasrat seksual, dan hasrat seksual yang tinggi memang salah satu ciri dari individu dengan parafilia (Kafka, 1997). Meskipun begitu, laki-laki dengan parafilia tidak semua memiliki tingkat testosteron serta andorgen yang tinggi (Thibaut, De LA Barra, Gordon, et al., 2010).

  1. Faktor Psikologi

Banyak teori psikologi dari kasus parafilia mengatakan, parafilia itu merupakan gangguan yang melibatkan satu set permasalahan contohnya pengalaman masa lalu, masalah hubungan percintaan, penyiksaan, dan kognisi.

 

 

 

Dapatkan Update PsychoShare.com terbaru via Twitter, Follow Kami di: