Menangani Pelecehan Seksual di Kantor

Ilustrasi: Google
Ilustrasi: Google

Pernahkah seorang rekan kerja bersiul, menggoda atau menyentuh saat Anda lewat di depannya sehingga Anda merasa risih dan tidak nyaman jika berada di dekatnya? Atau Anda akan mendapat promosi di pekerjaan namun harus melakukan aktivitas seksual dengan atasan? Jika pernah diperlakukan seperti itu dan Anda tidak suka, artinya Anda pernah mengalami pelecehan seksual.

Apakah pelecehan seksual itu? Pelecehan seksual adalah suatu bentuk memandang rendah seseorang berkenaan dengan hal-hal yang berhubungan dengan jenis kelamin atau aktivitas seksual antara laki-laki dan perempuan yang tidak diinginkan baik secara verbal dan non verbal sehingga seseorang merasa tersinggung, dipermalukan, dan/atau terintimidasi. Pelecehan seksual terjadi jika tidak ada kesukarelaan dari satu pihak. Jadi, perlu digarisbawahi bahwa pelecehan seksual bukan tindakan yang dilandasi kerelaan dari keduanya.

Pelecehan seksual memiliki beragam bentuk-bentuk seperti di bawah ini:

1.Pelecehan fisik seperti sentuhan yang tidak diinginkan mengarah ke perbuatan seksual seperti menyentuh, mencium, menepuk, atau mencubit

2.Pelecehan lisan seperti kata-kata, komentar, atau lelucon yang berkonotasi seksual dan tidak diinginkan, misalnya mengenai bagian tubuh atau penampilan seseorang

3.Pelecehan isyarat seperti bahasa tubuh dan atau gerakan tubuh bernada seksual, kerlingan yang dilakukan berulang-ulang, isyarat dengan jari, atau menjilat bibir

4.Pelecehan tertulis atau gambar seperti menampilkan bahan pornografi , gambar, poster seksual, atau pelecehan lewat email dan media komunikasi elektronik lainnya

5.Pelecehan psikologis/emosional seperti permintaan-permintaan dan ajakan-ajakan yang terus menerus dan tidak diinginkan, ajakan kencan yang tidak diharapkan, penghinaan atau celaan yang bersifat seksual.

Perbedaan jenis kelamin di lingkungan kerja dapat berdampak pada pelecehan seksual. Menurut penelitian yang dilakukan Abbey (1992), laki-laki cenderung memahami ketertarikan seksual pada saat perempuan memahami hal tersebut sebagai bentuk keramahtamahan. Laki-laki cenderung menginterpretasikan perilaku ramah sebagai minat seksual sementara perempuan cenderung menginterpretasikan perilaku yang menunjukkan minat seksual sebagai keramahtamahan. Walaupun perempuan tidak memiliki minat seksual pada seorang laki-laki dan ia berperilaku ramah pada laki-laki tersebut, laki-laki tetap akan merasa adanya ketertarikan seksual dari perempuan. Perbedaan interpretasi ini membuka banyak ruang untuk terjadi kesalahpahaman.

Selain itu ada beberapa yang percaya bahwa masalah pelecehan seksual ini bukan semata-mata mengenai “kebutuhan seksual” tetapi juga mengenai “kekuasaan” (Bravo dan Cassedy, 1992; Avner, 1994). Selain itu menurut Englander, Ford, dan McLaughlin, pelecehan seksual merupakan penyalahgunaan kekuasaan yang paling umum di tempat kerja. Ini juga merupakan hal yang meremehkan, menganggu, dan menghina bagi yang mengalaminya. Pelecehan seringkali dilakukan dengan menyalahgunakan kekuasaan sehingga korban akan mengalami kesulitan untuk membela diri. Situasi “quid pro quo” atau “ini untuk itu” juga ditemukan dalam dunia kerja misalnya atasan yang berusaha mempengaruhi atau mengimingi-imingi kenaikan gaji dengan imbalan seksual. Dalam situasi “quid pro quo”, kekuasaan merupakan komponen yang penting dalam pelecehan seksual karena pelaku memiliki kekuatan yang nyata untuk melaksanakan ancamannya jika akses seksualnya ditolak.

Perempuan yang mengalami pelecehan seksual akan mengalami gejala fisik dan emosional. Gejala-gejala yang dialami biasanya berkurangnya kepuasan kerja, menurunnya komitmen dalam perusahaan, sakit secara fisik dan mengalami gangguan pada kesehatan mentalnya, dan bahkan bisa mengalami tanda-tanda gangguan post-traumatic stress (Willness, Steel, & Lee, 2007). Keberadaan pelecehan seksual di tempat kerja membuat pegawai sulit untuk fokus pada pekerjaan mereka, berpengaruh secara tidak langsung pada performa kerja seperti tingginya tingkat tidak masuk kerja dan keinginan untuk pindah kerja, serta menurunnya semangat (Fitzgerald et al., 1997; Schneider, Swan, & Fitzgerald, 1997).

Beberapa hasil penelitian menunjukkan laporan mengenai pelecehan seksual kurang dari 20% (Peirce, Rosen, & Hiller, 1997; Ware & McClellan, 2005). Ada dua alasan mengapa bisa terjadi seperti ini. Pertama, korban merasa khawatir dengan karir mereka jika mereka melaporkan kasus pelecehan seksual. Kedua, adanya keraguan bahwa keluhan akan dianggap serius dan pelaku akan dihukum; karyawan juga mungkin mempertanyakan keadilan dan panjang penyelidikan. Padahal pelecehan seksual harus ditangani dan dihentikan karena ini merupakan perilaku yang sering berulang. Menurut artikel yang berjudul Responding to Sexual Harrassment in the Workplace (1993) disebutkan bahwa dari 75% kasus, kebanyakan para pelaku pelecehan seksual akan melanjutkan perilakunya jika diabaikan.

Menurut Haggard dan Alexander Jr. (1994), pelecehan di tempat kerja dalam dicegah yaitu dengan adanya peraturan atau kebijakan dari perusahaan, pelatihan yang dapat digunakan untuk mengajarkan pekerja bagaimana menghadapi pelecehan seksual dan konsekuensinya, dan adanya bagian khusus di perusahaan untuk menangani kasus pelecehan seksual.

Untuk melakukan pencegahan, nyatakan keberatan atau ketidaksukaan untuk setiap tindakan yang berkonotasi seksual. Jika tidak berani menyampaikan secara langsung, lakukan melalui surat atau email. Kumpulkan bukti, catat tanggal dan tempat kejadian secara rinci, saksi, dan lainnya kemudian sampaikan pada atasan atau HRD perusahaan. Asertif untuk menolak dan berani mengatakan tidak.

Nia Janiar, S.Psi adalah lulusan Universitas Pendidikan Indonesia yang memiliki minat pada masalah klinis, fenomena sosial, dan isu perempuan. Untuk korespondensi, silakan hubungi melalui email di niajaniar[at]yahoo[dot]com

Daftar pustaka:

Browne, Kingsley R. 2006. Sex, Power, and Dominance: The Evolutionary Psychology of Sexual Harrassment.

International Labour Organization (ILO) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). 2011. Pencegahan dan Penanganan Pelecehan Seksual di Tempat Kerja.

Kanazawa, Satoshi. 2009. Men sexually harass women because they are not sexist II.

Sung, Steve. 2008. Handling Sexual Harassment in the Workplace.

Penulis : Nia Janiar/RuangPsikologi

Dapatkan Update PsychoShare.com terbaru via Twitter, Follow Kami di: