ABRAHAM MASLOW: TEORI KEPRIBADIAN HUMANISTIK

A.    EKSISTENSIALISME DAN PSIKOLOGI HUMANISTIK

Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang mempermasalahkan manusia sebagai individu yang dan sebagai problema yang unik dengan keberasaannya. Menurut aliran eksistensialisme, manusia adalah hal yang-mengada-dalam dunia (being in the word) dan menyadari penuh akan keberadaannya. Para filsuf eksistensialisme percaya bahwa setiap individu mengalami kebebasan untuk memilih tindakan, menentukan sendiri nasib atau wujud dari keberadaannya, serta bertanggung jawab atas pilihan dan keberadaannya itu. Sejumlah tokoh dari eksistensialisme ini adalah Soren Kierkegarrd, Nietzsche, Karls Jaspers, Martin Heidegger, Sartre, Merleau-Ponty, Camus, Binswanger, Medard Boss dan Viktor Frankl.

Eksistensialisme ini menarik bagi para ahli psikologi humanistik. Para ahli humanistic pun menekankan bahwa individu adalah penentu bagi tingkah laku dan pengalamannya sendiri. Manusia adalah agen yang sadar, beabas meilih atau menentukan setiap tindakannya.

Konsep penting lainnya bagi psikologi humanistik yang diambil dari eksistensialisme adalah konsep kemenjadian (becoming). Menurut konsep ini, manusia tidak pernah diam, tetapi selalu dalam proses untuk menjadi sesuatu yang lain dari sebelumnya.

 

B.     AJARAN-AJARAN DASAR PSIKOLOGI HUMANISTIK

1. Individu sebagai keseluruhan yang integral

Salah satu aspek yang fundamental dari psikologi humanistik adalah ajarannya bahwa manusia atau individu harus dipelajari sebagai keseluruhan yang integral, khas dan terorganisasi.

2. Ketidakrelevanan penyelidikan dengan hewan

Para psikologi humanistic mengingatkan tentang adanya perbedaan antara manusia dengan hewan. Maslow menegaskan bahwa penyelidikan manusia dengan hewan tidak relevan bagi upaya memahami tingkah laku manusia karena mengabaikan ciri-ciri yang khas pada manusia.

3. Pembawaan baik manusia

Psikologi humanistik memiliki anggapan bahwa manusia itu pada dasarnya adalah baik. Kekuatan jahat atau merusak yang ada pada manusia itu adalah hasil dari lingkungan yang buruk, bukan merupakan bawaan.

4. Potensi kreatif manusia

Salah satu prinsip dari psikologi humanistic adalah bahwa potesnsi kreatif merupakan potensi umum yang ada pada manusia. Maslow juga menemukan bahwa kebanyakan orang yang kehilangan kreativitasnya menjadikan mereka ”tak  berbudaya”

5. Penekanan pada kesehatan psikologis

Psikologi humanistik memandang self-fulfillment sebagai tema yang utama dalam hidup manusia. Suatu tema yang tidak akan ditemukan pada teori lain yang berlandaskan studi atas individu yang mengalami gangguan.

 

C.    TEORI KEBUTUHAN BERTINGKAT

Menurut maslow, bagi manusia kepuasan itu bersifat sementara. Jika suatu kebutuhan telah terpuaskan, maka kebutuhan-kebutuhan lain akan menutut pemuasa,. begitu setersunya. Berdasarkan ciri demikian, Maslow mengajukan gagasan bahwa kebutuhan yang ada pada manusia adalah merupakan bawaan dan tersusun menurut tingkatan (bertingkat). Kebutuhan yang tersusun bertingkat itu dirinci kedalam lima tingkat kebutuhan, yaitu :

  1. Kebutuhan-kebutuhan dasar fisiologis
  2. Kebutuhan akan rasa aman
  3. Kebutuhan akan cinta dan memiliki
  4. Kebutuhan akan rasa harga diri, dan
  5. Kebutuhan akan aktualisasi diri.

Menurur Maslow, ke butuhan yang ada di tingkat dasar pemuasannya lebih mendesak dari pada kebutuhan yang ada di atasnya. Susunan kebutuhan dasar yang bertingkat itu merupakan organisasi yang mendasari manusia. Dengan melihat kebutuhan individu tersebut, kita bisa melihat kualitas perkembangan kepribadian individu tersebut. Semakin individu itu mampu memuaskan kebutuhannya yang tinggi, maka individu itu akan semakin semakin mampu mencapai individualitas, matang dan berjiwa sehat.

Maslow mengingatkan bahwa dalam pemuasan kebutuhan itu tidak sselalu kebutuhan yang ada di bawah lebih penting atau didahulukan dari kebutuhan yang ada diatasnya. Tetapi tentu saja hal tersebut merupakan suatu kekecualian, karena secara umum kebutuhan yang lebih rendah pemuasannya lebih mendesak dari pada kiebutuhan yang lebih tinggi.

 

D.    MOTIF KEKURANGAN DAN MOTIF PERTUMBUHAN

Maslow membagi motif-motif manusia kedalam dua kategori, yakni motif kekurangan (deficite motive) dan motif pertumbuhan (growth motive). Motif-motif kekurangan menyangkut kebutuhan fisiologis dan rasa aman.. sasaran utama dari motif kekurangan ini adalah mengatasi peningkatan tegangan organismik yang dihasilkan oleh keadaan kekurangan. Motif-motif kekurangan ini menjadi penentu yang mendesak bagi tingkah laku individu. ia mengajukan lima criteria atau ciri dari motof kekurangan, yakni :

  1. Ketiadaan pemuasnya membuat sakit
  2. Adanya atau kehadiran pemuasnya mencegah sakit
  3. Perbaikan atau pengadaan pemuasnya meyembuhkan sakit
  4. Di bawah kondisi memilih, pemenuhan motif kekurangan akan diutamakan
  5. Motif-motif kekurangan tidak begitu dominan pada orang sehat

Berbeda dengan  motif kekurangan, motif pertumbuhan adalah motif yang mendorong individu untuk mengungkapkan potensi-potensinya. Arah dari motif pertumbuhan ini adalah memperkaya kehidupan dengan memperbanyak belajar dan pengalaman dan karenanya  juga member semangat hidup. Maslow mengemukakan bahwa motif-motif pertumbuhan pada manusia adalah nalurian dan inheran. Karena itu motif pertumbuhan harus terpuaskan apabila kesehatan psikologis ingin terpelihara dan perkembangan yang maksimal ingin dicapai.jika tidak terpuaskan, maka individu tersebut akan sakit secara “psikologi”, “penyakit” tersebut oleh Maslow disebut metapatologi.

Di bawah ini adalah tabel penjelasan dari motif-motif pertumbuhan dan bentuk-bentuk metapatologi yang mungkin muncul.

 

Motif pertumbuhan

Metapatologi

  • Kebenaran
  • Keindahan
  • Keunikan
  • Kesempurnaan
  • Keadilan
  • Semangat
  • Kebajikan
  • Kesederhanaan
    • Kehilangan kepercayaan, sinisme, ekeptisisme.
    • Kekasaran, kehilangan rasa keindahan, kesuraman.
    • Kehilangan rasa diri dan individualitas.
    • Ketidakberdayaan, kekacauan, ketidakterkendalikan.
    • Ketidakadilan, egosentrisme, sinisme.
    • Kehilangan semangat hidup, depresi.
    • Kebencian, kejijikan, pementingan diri sendiri.
    • Keruwetan, kebingungan, kekalapan, kehilangan orientasi.

 

E.     VALIDASI EMPIRIS ATAS TEORI KEPRIBADIAN MASLOW

Usaha-usaha untuk menguji atau membuktikan teori Maslow, terutama dipusatkan pada dua konsep, yaitu :

  1. Pengujian atas konsep kebutuhan bertingkat
  2. Pengukura n dan alat ukur aktualisasi diri

Perhatian dan usaha empiris hanya ditujukan kepada kedua konsep tersebut karena keduanya telah member sumbangan yang besar terhadap psikologi dan teori kepribadian.

 

F.     PENERAPAN: AKTUALISASI DIRI SEBAGAI CORAK HIDUP IDEAL

Dalam pencapaian aktualisasi diri, memerlukan banyak syarat yang tidak mudah untuk dipenuhi. Maslow menyebutkan syarat yang paing pertama dan utama bagi pencapaian aktualisasi diri adalah terpuaskannya kebutuhan-kebutuhan dasar dengan baik. Tetapi di lain pihak, Maslow juga menyebutkan bahwa  pengetahuan mengenai ciri orang yang self-actualized  memiliki arti penting, yakni sebagai patokan atau standar untuk mengukur kemajuan diri, sekaligus sebagai standar untuk perbaikan diri dengan harapan bisa mencapai taraf hidup yang ideal. Ciri-ciri orang yang self actualized yang dimaksud Maslow adalah :

  1. Mengamati realitas secara efisien
  2. Penerimaan atas diri sendiri, orang lain, dan kodrat
  3. Spontan, sederhana, dan wajar
  4. Terpusat pada masalah
  5. Pemisahan diri dan kebutuhan privasi
  6. Kemandirian dari kebudayaan dan lingkungan
  7. Kesegaran dan apresiasi
  8. Pengalaman puncak atau pengalaman mistik
  9. Minat sosial
  10. Hubungan antar-pribadi
  11. Berkarakter demokratis
  12. Perbedan antara cara dan tujuan
  13. Rasa humor yang filosofis
  14. Kreativitas
  15. Penolakan enkulturasi

 

Dapatkan Update PsychoShare.com terbaru via Twitter, Follow Kami di: