PROBLEM KHUSUS DALAM APPERCEPTIVE DISTORTION

 

  1. Hypnosis

Kata “hypnosis” pertama kali diperkenalkan oleh James Braid, seorang dokter ternama di inggris yang hidup antara tahun 1795 – 1860. Sebelum masa Jame Braid, hypnosis dikenal dengan nama Mesmerism / Magnetism.

Hypnosis berasal dari kata “hypnos” yang merupakan nama dewa tidur orang yunani. Namun perlu dipahami bahwa kondisi hypnosis tidaklah sama dengan tidur. Orang yang sedang tidur tidak menyadari dan tidak bisa mendengar suara-suara disekitarnya. Sedangkan orang dalam kondisi hypnosis, meskipun tubuhnya beristirahat (seperti tidur), ia masih bisa mendengar dengan jelas dan merespon informasi yang diterimanya.

Hypnosis telah dipelajari secara ilmiah lebih dari 200 tahun. Banyak studi klinis dan eksperimental mencoba menentukan apa yang paling unik dari hypnosis dibanding fenomena mental lainnya. Keunikan ini perlu dipahami untuk merumuskan sebuah definisi hypnosis yang akurat. Namun sampai sekarang, defisini hypnosis yang diungkapkan setiap tokoh masih berbeda-beda. Semua orang setuju adanya sesuatu yang dinamakan hypnosis, tapi berbeda pendapat mengenai apa itu hypnosis.

Para pakar hipnosis masing-masing memberikan definisi mereka untuk kata hipnosis. Beberapa definisi itu antara lain:

  1. Hipnosis adalah suatu kondisi yang menyerupai tidur yang dapat secara sengaja dilakukan kepada seseorang, di mana seseorang yang dihipnotis bisa menjawab pertanyaan yang diajukan, serta menerima sugesti dengan tanpa perlawanan.
  2. Hipnosis adalah suatu kondisi di mana perhatian menjadi sangat terpusat sehingga tingkat sugestibilitas (daya terima saran) meningkat sangat tinggi.
  3. Hipnosis adalah seni eksplorasi alam bawah sadar
  4. Hipnosis adalah kondisi kesadaran yang meningkat
  5. Hipnosis adalah suatu kondisi pikiran yang dihasilkan oleh sugesti
  6. Hipnosis adalah kondisi di mana pikiran sadar / critical factor di-by pass
  7. Hipnosis adalah pemusatan fokus pikiran hanya kepada satu ide atau konsep

Semua definisi di atas benar, karena menandakan salah satu atau beberapa gejala dari kondisi hypnosis. Akan tetapi apa yang diungkapkan diatas belum bisa mencerminkan apa yang paling unik dari hypnosis yang berbeda dari kondisi mental lain. Sebab itu, kami memilih menggunakan definisi hypnosis yang dibuat oleh U.S. Department of Education, Human Services Division, dikatakan bahwa; “Hypnosis is the by-pass of the critical factor of the conscious mind followed by the establishment of acceptable selective thinking” atau “Hypnosis adalah penembusan faktor kritis pikiran sadar diikuti dengan diterimanya suatu pemikiran atau sugesti”.

Berikut ini adalah jenis hipnosis dan manfaatnya.

  1. Stage Hypnosis 

Stage Hypnosis  adalah hipnosis yang digunakan untuk pertunjukan hiburan.

  1. Clinical Hypnosis atau Hypnotherapy

     Clinical Hypnosis atau Hypnotherapy adalah aplikasi hipnosis dalam menyembuhkan masalah mental dan fisik (psikosomatis). Aplikasi dalam pengobatan penyakit antara lain: depresi, kecemasan, phobia, stress, penyimpangan perilaku, mual dan muntah, melahirkan, penyakit kulit, dan masih banyak lagi.

  1. Anodyne Awareness

     Anodyne Awareness adalah aplikasi hipnosis untuk mengurangi rasa sakit fisik dan kecemasan. Banyak dokter, tenaga medis, perawat, dan dokter gigi menggunakan teknik anodyne untuk membantu pasien menjadi rileks dengan sangat cepat dan mengurangi rasa sakit dengan mental anestesi.

  1. Forensic Hypnosis

     Forensic Hypnosis adalah penggunaan hipnosis sebagai alat bantu dalam melakukan investigasi atau penggalian informasi dari memori.

  1. Metaphysical Hypnosis

     Metaphysical Hypnosis adalah aplikasi hipnosis dalam meneliti berbagai fenomena metafisik. Jenis hipnosis ini bersifat ekperimental.

Berikut ini adalah jenis hipnosis menurut pelakunya:

  1. Self Hypnosis

Self hypnosis adalah hipnosis yang dilakukan oleh diri sendiri terhadap diri sendiri.

  1. Hetero Hypnosis

Hetero hypnosis adalah hipnosis yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain. Contohnya adalah hipnosis yang dilakukan seorang hipnotis atau hipnoterapis terhadap subjek atau klien.

  1. Para Hypnosis

Para hypnosis adalah kondisi hipnosis yang terjadi karena pengaruh obat. Contohnya adalah pasien yang dibius atau dianestesi saat akan dioperasi. Walaupun secara fisik pasien telah ”tidak sadar” namun pikiran pasien masih aktif dan tetap dapat mendengar apa yang dikatakan oleh orang di sekitarnya.

     Waking Hypnosis adalah hipnosis yang dilakukan dalam keadaan sadar. Yang terjadi adalah informasi yang disampaikan oleh orang yang dipandang sebagai figur otoritas akan dengan sangat mudah menembus critical factor / filter mental dan masuk ke pikiran bawah sadar seseorang dan diterima tanpa argumentasi atau penyelidikan lebih lanjut.

  1. Mass Psychological Phenomena

Proses terjadinya fenomena ini sangat mirip dengan hipnosis.

Di dalam group psychology and the analysis of the ego, freud mengemukakan bahwa setiap individu akan mengintroyeksikan massa dalam dirinya atau group sebagai suatu faktor tansitorik di dalam ego dan superego, dimana bila individu menjadi salah satu anggota group, ia akan melihat segala sesuatu berdasarkan kacamata group atau massa. Dalam hal ini group terlihat sebagai suatu figur otorita, seperti halnya didalam hipnosis, sehingga persepsi kelompok akan mengontrol image memory. Terjadinya pengeroyokan, kekacauan-kekacauan massal, perkelahian massal, merupakan fasilitas (dipermudah) kemunculan impuls-impuls primitif.

  1. Transference

Meurut Semiun transference (transferensi) adalah mengalami perasaan-perasaan, dorongan-dorongan, sikap-sikap, fantasi-fantasi, dan pertahanan-pertahanan terhadap seorang pada masa sekarang yang sebenar-benarnya tidak tepat ditujukan kepada orang itu, tetapi merupakan pengulangan reaksi yang mula-mula yang ditujukan kepada orang (orang-orang) yang penting pada masa kanak-kanak awal, yang secara tidak sadar dipindahkan kepada figur (figur-figur) pada masa sekarang.

Sedangkan menurut Teguh, yaitu transference merupakan hubungan emosional pasien terhadap psikoanalisnya.  Sebagai bagian yang integral di dalam hubungan emosional itu, analist paling tidak harus berperan sebagai suatu figure yang tidak bertindak aktif (pasif) di dalam hubungan emosional tersebut, dan dapat menahan diri untuk tidak memberikan celaan atau pujian, ataupun reaksi-reaksi lain terhadap mood (suasana hati) pasien.

Dari definisi tersebut, transferensi dilihat sebagai suatu hubungan khusus terhadap seseorang atau suatu tipe khusus hubungan objek. Pada hakikatnya, seseorang pada masa sekarang diberi reaksi seolah-olah ia adalah seseorang dari masa lampau. Dengan kata lain transferensi merupakan pengulangan, suatu edisi baru dari hubungan objek yang lama. Disini terjadi pemindahan yakni komponen-komponen dari hubungan objek dimasa lalu ke masa sekarang. Komponen-komponen misalnya perasaaan-perasaan, dorongan-dorongan, keinginan-keinginan, hasrat-hasrat, ketaku-tan-ketakutan, fantasi-fantasi, ide-ide, sikap-sikap atau pertahanan-per-tahanan terhadap hal-hal tersebut.

Transference terjadi bila pasien mentransfer sentimen-sentimennya yang terbentuk di masa-masa lalu kepada analisnya. Pasien akan mengharapkan adanya kritik-kritik, celaan-celaan atau hukuman, ataupun pujian-pujian dari analis dan seringkali akan terjadi apperseptive distortion terhadap reaksi-reaksi analis. Oleh karena itu, salah satu tugas analis adalah menunjukkan secara logis perbedaan-perbedaan antara distorsi-distorsi dan fakta-fakta yang ditanggapi pasien.

Menurut freud reaksi-reaksi transference (transferensi) memberikan peluang kepada analis untuk menyelidiki masa lampau dan ketidaksadaran yang tidak dapat dicapai.

Situasi transference dapat digambarkan sebagai suatu peristiwa dimana pasien mengalami distorsi di dalam appersepsinya (apperseptive distortion) terhadap analis, karena adanya munculnya image-image masa lalu tentang orang tua dan figur lain di dalam kehidupan masa lalunya.

Sumber asli dari reaksi-reaksi transferensi adalah orang-orang penting pada masa kanak-kanak awal, seperti orang tua dan pengasuh, orang-orang yang memberi cinta, kesenangan dan hukuman, saudara kandung dan sebagainya. Reaksi transferensi pada hakikatnya tidak sadar, meskipun suatu aspek dari reaksi mungkin sadar. Orang yang mengalami reaksi tranferensi mungkin sadar bahwa ia bereaksi berlebihan atau aneh, tetapi ia tidak mengetahui makna sebenernya dari reaksi itu.

Berikut ini akan dikemukakan beberapa manifestasi gejala-gejala transferensi yang sangat khas karena karena sangat mudah terjadi selama proses analisis. Ciri-ciri umum reaksi transferensi, yaitu antara lain :

  • 1) Ketidaktepatan

Suatu pertanyaan segera muncul ketika dijelaskan gambaran klinis tentang reaksi-reaksi transferensi. Apakah kita mengklarifikasikan semua reaksi terhadap analis merupakan suatu transferensi? Menurut definisi yang dikemukakan, jawabnya tidak. Dapat dikemukakan contoh, seorang pasien marah terhadap analisnya. Kita tidak bisa menentukan dari fakta ini saja apakah seseorang menangani suatu reaksi transferensi. Pertama-tama harus dapat dipastikan bahwa apakah tingkah laku analis membenarkan kemarahan pasien. Jika pasien jengkel terhadap karena analis mengganggu asosiasi-asosiasi pasien dengan menjawab telepon, maka kejengkelan pasien tidak dianggap sebagai suatu reaksi transferensi. Responnya kelihatan realistik, sesuai dengan keadaan. Bukan berarti bahwa reaksi pasien harus diabaikan, tetapi kita menanggapi kejadian itu secara berbeda dengan menangani gejala-gejala tranferensi. Kita bisa menyelidiki sejarah pasien dan fantasi-fantasinya berkenaan dengan reaksi-reaksi marah. Namun terlepas dari penemuan tersebut, reaksi pasien terhadap frustasinya adalah realistik. Bila pasien sangat marah bukan hanya jengkel, atau bia ia sama sekali bereaksi masa bodo, maka intensitasnya yang tidak tepat dari reaksi tersebut menujukkan bahwa ada kemungkinan kita sedang menghadapi pengulangan suatu reaksi dari masa kanak-kanak. Hal yang sama juga berlaku bila kejengkelan pasien berlangsung selama berjam-jam atau bila ia bereaksi terhadap interupsi itu dengan tertawa.

Ketidaktepatan dari suatu reaksi terhadap situasi sekarang merupakan tanda bahwa orang yang menimbulkan reaksi tersebut bukan objek yang benar dan menentukan. Itu menandakan bahwa reaksi tersebut mungkin dimiliki atau cocok dengan suatu objek pada masa lalu.

  • 2) Intensitas

Pada umumnya reaksi-reaksi emosional yang kuat terhadap analis adalah petunjuk adanya transferensi. Ini berlaku bagi bermacam-macam bentuk cinta, kebencian dan ketakutan. Tingkah laku dan sikap-sikap analis yang biasa tenang, tidak mengganggu dan konsisten pada kenyataannya tidak menimbulkan reaksi-reaksi yang kuat. Penting dikemukakan bahwa seorang pasien bisa dibenarkan kalau ia bereaksi dengan intensitas yang hebat jika tingkah laku analis dan situasi analitik membenarkan ini. Misalnya, analis tertidur ketika mendengarkan pasiennya. Pasien menyadari ini dan akhirnya berusaha membangunkan analis dengan memanggil namanya. Pasien akan menjadi sangat marah apabila analis tidak mengakui kesalahannya, tetapi malahan menginterprestasikan bahwa pasien secara tidak sadar ingin tertidur karena meras bosan.

Dalam situasi demikian, reaksi kemarahan pasien tidak dianggap sebagai reaksi tranferensi. Reaksi pasien itu benar dan tepat. Dalam kenyataannya, reaksi yang lain kemungkinan besar merupakan tanda dari pemindahan masa lampau. Ini tidak berarti bahwa reaksi pasien tidak harus dianalisis. Tujuan terakhir analisis adalah berbeda jika kita menangani suatu reaksi tranferensi dibandingkan dengan reaksi yang realistik. Selanjutnya ada kemungkinan dalam semua reaksi yang kuat tanpa memperdulikan apakah reaksi itu dapat dibenarkan atau tidak, bahwa disamping superstruktur realisti terdapat juga inti tranferensi. Namun dalam proses analisis biasa, reaksi-reaksi yang kuat terhadap analis merupakan petunjuk yang dapat diandalkan dari suatu reaksi transferensi. Kebalikan dari reaksi-reaksi yang kuat adalah tidak adanya reaksi-reaksi dan ini juga merupakan tanda adanya tranferensi. Pasien mungkin memiliki reaksi-reaksi, tetapi menyembunyikannya karena ia malu atau takut. Ini merupakan manifestasi dari resistensi transferensi. Mungkin ada perasaan-perasaan kuat dalam diri pasien, tetapi perasaan-perasaan tersebut direpresikan, diisolasikan, atau dipindahkan. Kadang-kadang tetap dibutuhkan analisis terhadap ketakutan bereaksi secara emosional kepada analis sebelum pasien berani bereaksi secara spontan.

Bisa terjadi pasien sama sekali tidak menghiraukan analisnya dalam waktu singkat karena peristiwa-peristiwa yang penting sedang berlangsung dalam kehidupannya, yang terlepas dari analisis. Namun, jika dalam waktu lama perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, atau fantasi-fantasi tentang analis tidak ada, ini merupakan suatu gejala tranferensi, yakni resistensi transferensi. Analis – sebagai orang terpenting dalam kehidupan orang yang dianalisis – hilang dari fikiran-fikiran dan perasaan-perasaannya dalam jangka waktu yang lama. Jika analis benar-benar tidak penting, maka pasien tidak akan berada dalam analisis. Pasien mungkin mengikuti proses analisisi hanya menyenangkan orang lain atau datang untuk tujuan tertentu, bukan untuk perawatan.

Bisa juga terjadi seorang lain dalam kehidupan pasien menahan emosi-emosinya yang kuat, dan tidak adanya emosi-emosi yang kuat terhadap analis mungkin bukan karena resistensi transferensi. Misalnya selama bagian pertama dari analisis tidak terjadi apa-apa, namun dalam proses analisis selanjutnya pasien jatuh cinta. Bisa terjadi cinta tersebut berisi elemen-elemen penting dari masa lampaunya, tetapi sumbangan dari situasi analitik mungkin sangat penting, atau mungkin juga sama sekali tidak penting. Analis harus menyelidiki situasi demikian dengan teliti dan berulang-ulang sebelum menyimpulkan dengan tepat. Di sini harus diperhatikan, apakah pasien itu jatuh cinta untuk menyenangkan analis? Apakah pasien telah jatuh cinta kepada seseorang yang menyerupai analis? Apakah jatuh cinta merupakan tanda kematangan? Apakah jatuh cinta merupakan suatu harapan realistik untuk hubungan yang selalu bahagia?

  • 3) Ambivalensi

Semua reaksi transferensi bercirikan ambivalensi, yakni perasaan-perasaan yang bertentangan dengan hidup berdampingan. Biasanya dalam psikoanalisis ambivalensi diartikan sebagai perasaan tidak sadar ada bersama dengan perasaan sadar. Tidak ada cinta terhadap analis tanpa kebencian yang tersembunyi, tidak ada keinginan-keinginan seksual tanpa penolakan yang tersembunyi, dan sebagainya.

Ambivalensi mudah ditemukan bila perasaan-perasaan tersebut tidak tetap dan berubah tanpa terduga. Dapat juga terjadi ambivalensi ditangani pasien dengan cara memindahkan salah satu bagian kepada orang lain atau analis lain. Ini kadang-kadang terlihat pada calon-calon analis yang mengikuti latihan analisis. Mereka akan mempertahankan suatu hubungan positif dengan analis pribadi mereka, dan memindahkan kebencian mereka yang tidak disadari kepada seorang pengawas atau pemimpin seminar, atau juga sebaliknya.

Tidak boleh dilupakan bahwa reaksi-reaksi ambivalensi bisa juga terjadi dalam transferensi. Figure analis terbelah menjadi objek yang baik, dan objek yang buruk, masing-masing berada secara terpisah dalam fikiran pasien

Contoh kasus : “ada seorang pasien yang memberikan respon-resopon aneh kepada intervensi-intervensi analis manakala dia merasa cemas. Analis mengumpulkan penjelasan-penjelasan berikut. Apabila ia merasa marah dan benci terhadap analis, ia mulai merasa takut, dengan demikian ia tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan analis karena ia merasa kata-kata analis sama seperti anak panah beracun dan pertahanannya tidak mempan terhadap kata-kata itu. Pada saat-saat itu ia hanya memusatkan perhatian pada nada suara analis, memperhatikan dengan sangat cermat perubhan-perubahan dalam kunci nada dan ritme. Nada-nada rendah dan ritme tetap memberinya suatu perasaan bahwa analis menyuguhkan makanan enak kepadanya seperti dilakukan ibunya dulu. Nada-nada tinggi dan ritme-ritme yang tidak teratur berarti ibunya menyuguhinya makanan tidak enak karena bapaknya ada disana serta membuatnya gugup dan meruk makanan tersebut. Dibutuhkan beberapa tahun analisis agar ia bisa melihat analis seorang yang utuh tanpa memperdulikan apakah ia mencintai, membenci atau takut pada analis.”

  • 4) Tidak Tetap

Kualitas lain yang menonjol dari reaksi-reaksi transferensi adalah tidak tetap (berubah-ubah). Perasaan-perasaan transferensi sering kali tidak tetap, tidak teratur, aneh. Ini khususnya terjadi pada awal analisis. Glover (1955) telah menyebut dengan sangat tepat reaksi-reaksi ini sebagai reaksi-reaksi transferensi yang “mengambang” (floating). Mengenai hal ini bisa melihat pada contoh berikut: “seorang wanita muda yang histeria yang depresif telah menjalani bulan kedua perawatan psikoanalitik. Ia sudah bekerja baik dalam perawatan itu, meskipun ia takut analis akan enganggapnya sebagai orang yang tidak berharga dan wanita biasa saja. Kemudian, muncillah perasaan-perasaan terpesona dan kagum terhadap analis dengan harapan analis akan menyukainya. Tiba-tiba dalam waktu satu jam, setelah mengalami kesulitan yang hebat ia mengakui suatu perasaan bahwa ia mencintai analis. Ia melihat celana dan kemeja analis yang kusut. Ia berpendapat bahwa analis bukan seorang maretialis dan kapitalis yang tamak, melainkan seorang yang idealis, bahkan seorang artis. Sepanjang siang dan malam ia berfantasi tentang analis dengan cara seperti ini. Prasaan –perasaannya terhadap analis bertambah kuat. Bahkan pada waktu analis mulai menganalisis dan menelusuri kembali reaksinya pada masa lampau, perasaan-perasaannya tetap bertahan. Hari berikutnya ia diliputi oleh rasa bersalah. Anaknya menderita sakit telinga pada malam hari dan pasien merasa ini semua karena kelalaiannya. Yang telah menghabiskan banyak waktu untuk melamun tentang cintanya yang baru, dan bukan memperhatikan anaknya. Ia yakin bahwa analis tidak menyukai wanita sembrono seperti dia. Ketika analis mulai mengejar sejarah reaksinya, ia merasa bahwa ia pantas menerima hukuman itu. Pada hari berikutnya, yakni hari ketiga, ia merasa penyambutan analis dingin, dan senyuman analis hampir seperti dibuat-buat,serta analis yang diam dianggap sebagai penghinaan terhadap dirinya. Sekarang ia berpendapat bahwa analis bukan seorang idealis atau seniman yang penampilannya sembrono. Analis dianggapnya sombong dan menghina pasien-pasien analis yang kebanyakan pasien neurotik. Ia membela dirinya dan kelomponya dengan mengkritik analis sebagai sebagai psikoanalis yang bermental jahat dan hidup dari orang-orang kaya tetapi memandang rendah mereka. Ia merasa bau rokok analis menjijikkan dan memuakkan. Pada jam analitik berikutnya ia merasa usaha-usaha analis untuk menganalisis perasaan-perasaan bermusuhannya kaku dan menimbulkan rasa sayang. Analis mungkin bermaksud baik dan peramah, tetapi muram. Analis mengganti merek rokoknya dan mengambil merek rokok yang lebih mahal karena kritiknya itu. Dan untuk itu, ia berterimakasih atas pertimbambangan analis. Ia berharap bahwa pada suatu hari analis akan menjadi pembimbing dan penasihatnya karena ia telah mendengar dari teman-temannya bahwa analis jauh lebih pandai bila bila dibandingkan dengan analis-analis lain. Bila analis tetap diam, ia merasa analis kaku, konvensional, yang akan merusak orang lain. Ia meninggalkan jam analitik dengan perasaan bahwa analis mungkin seorang  yang baik tetapi ia mengatakan “kasian terhadap orang yang menikah dengan analis”

  • 5) Kegigihan

Reaksi-reaksi sporadis kebanyakan terjadi pada awal analisis, sedangkan reaksi-reaksi yang lama dan kaku kemungkinan lebih besar akan terjadi pada tahap-tahap analisis kemudian, meskipun tidak ada kaidah mutlak tentang ini.

Pasien-pasien memiliki seperangkat perasaan dan sikap kronis terhadap analis dan yang tidak mudah menyerah pada interpretasi. Reaksi-reaksi yang gigih ini membutuhkan suatu analisis dalam jangka waktu lama, kadang-kadang sampai bertahun-tahun. Analisis yang membutuhkan jangka waktu lama tidak berarti bahwa pekerjaan analitik mengalami jalan buntu karena selama jangka waktu tersebut ciri-ciri khas lain dalam tingkah laku pasien bisa berubah dan bisa muncul pemahaman-pemahaman dan ingatan-ingatan baru. Pasien tetap mempertahankan pendiriannya karena perasaan-perasaannya yang ada tetap dipakai untuk melayani kebutuhan-kebutuhan instingtual dan defensif yang dirasa penting oleh pasien. Reaksi-reaksi yang gigih ini mungkin kuat atau halus.

  1. Psychoses

Menurut Singgih D. Gunarsa (1978 : 140), psikosis ialah gangguan jiwa yang meliputi keseluruhan kepribadian, sehingga penderita tidak bisa menyesuaikan diri dalam norma-norma hidup yang wajar dan berlaku umum. W.F. Maramis (1980 : 180) menyatakan bahwa psikosis adalah suatu gangguan jiwa dengan kehilangan rasa kenyataan (sense of reality). Kelainan seperti ini dapat diketahui berdasarkan gangguan-gangguan pada perasaan, pikiran, kemauan, motorik, dst. Sedemikian berat sehingga perilaku penderita tidak sesuai lagi dengan kenyataan. Perilaku penderita psikosis tidak dapat dimengerti oleh orang normal, sehingga orang awam menyebut penderita sebagai orang gila. Psikosis adalah kondisi mental yang tidak normal, yang ditandai dengan hilangnya kontak dengan realitas. Gejalanya berupa halusinasi dan delusi.

Pada delusi-delusi dan halusinasi-halusinasi psikotik terlihat adanya image-image masa lalu yang mendesak sedemikian kuat untuk muncul, sehingga sangat merusak appersepsi-appersepsi (distort the apperception) yang sekarang terhadap dunia.

Kita mengatakan bahwa appersepsi merupakan suatu Gestalt  yaitu penjumlahan dari berbagai appersepsi pada masa-masa sebelumnya, maka secara skematis dapat kita katakan bahwa image ketakutan terhadap dunia yang terbentuk di masa-masa silam, akan sangat memberikan pengaruh yang merusak appersepsi yang kemudian, sehingga dunia dirasakan teramat membahayakan dirinya (pasien).

Psikosis secara umum dibedakan menjadi 2 jenis yang berdasarkan faktor penyebabnya, yaitu psikosis organik yang disebabkan karena organik, dan psikosis fungsional yang terjadi karena faktor kejiwaan.

  • Ô Psikosis Organik

Psikosis organik adalah penyakit jiwa yang disebabkan oleh faktor-faktor fisik atau organik, yaitu pada fungsi jaringan otak, sehingga penderita mengalamai inkompeten secara sosial, tidak mampu bertanggung jawab, dan gagal dalam menyesuaikan diri terhadap realitas.

Psikosis organis dibedakan menjadi beberapa jenis dengan sebutan atau nama mengacu pada faktor penyabab terjadinya. Jenis psikosis yang tergolong psikosis organik adalah sebagai berikut.

  • ü Alcoholic psychosis, terjadi karena fungsi jaringan otak terganggu atau rusak akibat terlalu banyak minum minuman keras.
  • ü Drug psychose atau psikosis akibat obat-obat terlarang (mariyuana, LSD, kokain, sabu-sabu, dst.).
  • ü Traumatic psychosis, yaitu psikosis yang terjadi akibat luka atau trauma pada kepala karena kena pukul, tertembak, kecelakaan, dst.
  • ü Dementia paralytica, yaitu psikosis yang terjadi akibat infeksi syphilis yang kemudian menyebabkan kerusakan sel- sel otak.
  • Ô Psikosis Fungsional

Psikosis fungsional merupakan penyakit jiwa secara fungsional yang bersifat nonorganik, yang ditandai dengan disintegrasi kepribadian dan ketidak mampuan dalam melakukan penyesuaian sosial. Psikosis jenis ini dibedakan menjadi beberapa, yaitu: schizophrenia, psikosis mania-depresif, dan psikosis paranoid (Kartini Kartono, 2000 : 106).

  1. Schizophrenia

Arti sebenarnya dari Schizophrenia adalah kepribadian yang terbelah (split of personality). Sebutan ini diberikan berdasarkan gejala yang paling menonjol dari penyakit ini, yaitu adanya jiwa yang terpecah belah. Antara pikiran, perasaan, dan perbuatan terjadi disharmoni.

Menurut Carson dan Butcher (Wiramihardja, 2005: 134), schizophrenia merupakan kelompok psikosis atau psikotik yang ditandai terutama oleh distorsi-distorsi mengenai realitas, juga sering terlihat adanya perilaku menarik diri dari interaksi sosial, serta disorganisasi dan fragmentasi dalam hal persepsi, pikiran, dan kognisi.

Faktor penyebab terjadinya schizophrenia menurut para ahli ada bermacam-macam. Ada yang menyatakan bahwa penyakit ini merupakan keturunan. Ada pula yang menyatakan bahwa schizophrenia terjadi gangguan endokrin dan metabolisme. Sedangkan pendapat yang berkembang dewasa ini adalah bahwa penyakit jiwa ini disebabkan oleh beberapa factor, antara lain keturunan, pola asuh yang salah, maladaptasi, tekanan jiwa, dan penyakit lain yang belum diketahui  (W.F. Maramis, 1980 : 216-217).

  1. Psikosis mania-depresif

Psikosis mania-depresif merupakan kekalutan mental yang berat, yang berbentuk gangguan emosi yang ekstrim,yaitu berubah-ubahnya kegembiraan yang berlebihan (mania) menjadi kesedihan yang sangat mendalam (depresi) dan sebaliknya dan seterusnya.

Psikosis mania-depresif disebabkan oleh factor yang berhubungan dengandua gejala utama penyakit ini, yaitu mania dan depresi. Aspek mania terjadi akibat dari usaha untuk melupakan kesedihan dan kekecewaan hidup dalam bentuk aktivitas-aktivitas yang sangat berlebihan. Sedangkan aspek depresinya terjadi karena adanya penyesalan yang berlebihan.

  1. Psikosis paranoid

Psikosis paranoid merupakan penyakit jiwa yang serius yang ditandai dengan banyak delusi atau waham yang disistematisasikan dan ide-ide yang salah yang bersifat menetap. Istilah paranoid dipergunakan pertama kali oleh Kahlbaum pada tahun 1863, untuk menunjukkan suatu kecurigaan dan kebesaran yang berlebihan (W.,F. Maramis, 1980 : 241).

Faktor penyebab psikosis paranoid adalah

  • kebiasaan berpikir yang salah
  • Terlalu sensitif dan seringkali dihinggapi rasa curiga
  • Adanya rasa percaya diri yang berlebihan (over confidence)
  • Adanya kompensasi terhadap kegagalan dan kompleks inferioritas.

Penyebab dari psikosis ini, antara lain adanya riwayat keluarga yang pernah mengalami psikosis, penyalahgunaan obat terlarang seperti ganja dan metamfetamin, gangguan kepribadian schizotypal atau paranoid (gangguan kepribadian yang ditandai dengan perilaku aneh, suka menaruh kecurigaan, dan tidak percaya pada setiap orang), cidera yang mempengaruhi otal dan adanya riwayat komplikasi atau trauma

  1. Therapy

Teori terapi dari psikoanalisis dapat kita bagi menjadi beberapa tahap yang berurutan, yaitu :

  1. Communication

Komunikasi antara pasien dengan terapis, adalah melalui asosiasi bebas. Melalui asosiasi bebas ini, analis mempelajari atau menyelidiki tingkah laku pasien-pasiennya didalam berbagai situasi, dan berusaha menemukan sejumlah common denominator (elemen-elemen terkecil) di dalam pola-pola tingkah laku pasien.

  1. Interpretation
  • Horizontal Study

Yakni, terapis berusaha mencari suatu common denominator didalam pola-pola tingkah laku dan hubungan interpersonal pasien di dalam kehidupan yang sekarang

  • Vertical Study

Yakni menggunakan assosiasi bebas ataupun cara-cara lain yang maksudnya untuk melacak sejarah perkembangan common denominator pola-pola tingkah laku pasien di masa-masa yang silam

  • Relationship to The Therapist (Hubungan dengan Terapisnya)

Di dalam usaha melacak sejarah kehidupan pasien tersebut pada masa-masa  silamnya, hubungan pasien terhadap terapisnya amatlah penting, sehingga memungkinkan dilakukannyan analisis terhadap situasi transference (analysis of the transference situation)

Interpretasi dimaksudkan bahwa terapis menunjukkan kepada pasien common denominator dalam pola-pola tingkah lakunya melalui penyelidikan secara horizontal, vertikal dan didalam hubungannya dengan terapis

Di dalam ketiga tahap tersebut, terapis berusaha menyadarkan pasien adanya adanya apperceptive distortionnya terhadap situasi-situasi kehidupan.

Jadi interpretasi juga berisikan penunjukan denominator-denominator apperceptive distortion, dengan menjelaskan adanya hubungan antara percept memory pada masa-masa kehidupan awal, disaat terjadinya apperceptive distortion tersebut.

  1. Insight

Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Seringkali insight dimaksudkan sebagai keadaan atau situasi dimana pasien sudah menyadari akan keadaan mentalnya yang sedang sakit (pada pasien-pasien psikotik)

Di dalam konteks dynamic psychotherapy, insight diartikan sebagai kemampuan pasien melihat hubungan antara simtom-simtom yang dideritanya dan apperceptive distortion yang tidak disadarinya, yang mendasari terwujudnya simtom tersebut.

Secara lebih singkat insight dapat didefinisikan sebagai appersepsi pasien (atau persepsinya) terhadap common denominator di dalam pola-pola tingkah lakunya, seperti apa yang ditujukan oleh terapist

Proses insight dalam dianalisi dari 2 segi, yaitu:

  • Ô Intellectual insight

Yakni, pasien mampu melihat adanya interrelasi perbedaan antara pola-pola horizontal dan pola-pola vertikal pada dirinya. Disini pasien melihat inter relasi tersebut secara gestalt

Petilan peristiwa yang terisolir akan dapat terangkum menjadi suatu memory whole, sehingga ia akan dapat mempelajari dan melakukan penyusunan kembali pola-pola tingkah lakunya.

  • Ô Emotional insight

Yakni, pasien mereproduksi (menunjukkan) afeksi-afeksi yang mengikuti terjadinya Intellectual insight, seperti misalnya kelegaan (rasa plong), kecemasan, rasa bersalah, rasa bahagia, dal lain-lain.

Jika hanya Intellectual insight saja yang timbul (tanpa emotional insight), pemberian terapi boleh dikatakan tidak membawa hasil, karena emotional insight merupakan bagian yang esensial di dalam proses-proses terapeutik.

Timbulnya insight pada individu tergantung pada :

  1. Kesanggupan

Kesanggupan berkaitan dengan kemampuan inteligensi individu.

  1. Pengalaman

Dengan belajar, individu akan mendapatkan suatu pengalaman dan pengalaman itu akan menyebabkan munculnya insight.

  1. Taraf kompleksitas dari suatu situasi

Semakin kompleks masalah, maka akan semakin sulit untuk diatasi.

  1. Latihan

Latihan yang rutin akan meningkatkan kemampuan insight dalam situasi yang bersamaan

  1. Trial and Error

Apabila seseorang tidak dapat memecahkan suatu masalah, seseorang akan melakukan percobaan-percobaan hingga akhirnya menemukan insight untuk memecahkan masalah tersebut

 

  1. Working Throught

Yaitu merealisir insight yang telah atau baru diperolehnya, dengan melalui tahap-tahap sebagai berikut:

  • v Secara intelektual (intellectually)

Pasien mengaplikasikan apa yang telah dipelajarinya (di dalam proses psikoterapeutik) di dalam berbagai situasi yang ditunjukkan terapis, ke dalam sejumlah situasi- situasi lain.

  • v Secara emosional (therapeutically)

Pola-pola tingkah laku emosional didalam transference, oleh pasien diaplikasikan di dalam tingkah laku emosionalnya pada situasi kehidupannya yang selanjutnya (di luar proses terapeutik)

  • v Di dalam tingkah laku (behaviorally)

Insiht yang diperoleh di terapkan di dalam situasi-situasi yang nyata, dimana dengan suatu mental set yang baru, pasien dapat bereaksi secara lebih progresif  terhadap situasi-situasi nyata yang dihadapi, berdasarkan arah yang ditunjukkan terapisnya.

 

Referensi

Semiun, Yustinus. (2006). Teori Kepribadian Dan Terapi Psikoanalitik Freud. yogyakarta: Kanisius.

  • Davison, Gerald C. (et al). (2004). Psikologi Abnormal (Alih bahasa: Noermalasari Fajar). Jakarta: Rajawali Pers.
  • Dirgagunarsa, Singgih. (1998). Pengantar Psikologi. Jakarta : BPK Gunung Mulia.
  • Kartono, Kartini. (2000).Psikologi Abnormal.Bandung : CV Mandar Maju.
  • Maramis, W.F. (2000). Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya : Airlangga University.
  • Wiramihardja, Sutardjo A. (2005). Pengantar Psikologi Abnormal. Bnadung: Refika Aditam.
  • Pramoto, Teguh Darma. (2000).  Pengantar psikologi proyektif. Jakarta: Gunadarma.
  • http://lisayulista.blogspot.com/2012/01/insight-learning-wolfgang-kohler.html
  • http://aguscen.wordpress.com/apa-itu-hypnosis/
  • http://health.okezone.com/read/2012/10/15/482/704044/halusinasi-gejala-awal-psikosis

Sumber: http://yosephineyohana.blogspot.com

 

Dapatkan Update PsychoShare.com terbaru via Twitter, Follow Kami di: