Alat Mencari Jati Diri: Pendidikan

 

Untuk apa sih pendidikan itu? Setiap pagi anak-anak berangkat menuju sekolah, mengerjakan tugas, belajar, ujian, dan pulang. Kemudian keesokan paginya kembali mengulangi aktifitas yang sama. Untuk apa? Padahal jika dihitung-hitung, waktu yang telah kita, para mahasiswa, habiskan untuk sekolah dan kuliah hampir seluruh usia kita sampai saat ini loh!

Pernahkah kamu berpikir mengenai hal tersebut?

Hidup berisi sumber yang tak pernah bisa kita telusuri dan syukuri secara penuh. Apa itu hidup, dan untuk apa hidup itu? Hidup yang berisi tawa dan air mata. Hidup yang berisi kebaikan dan didalamnya juga terdapat keburukan. Hidup yang extraordinary beautiful!

Pernahkah kamu berpikir mengenai kehidupan?

Hmm, sayangnya orang biasanya hanya mempersiapkan sudut kecil dari kehidupan yang luar biasa indah ini. Kuliah. Lulus ujian. Mendapatkan pekerjaan sempurna. Menikah. Memiliki anak. Lalu? Sehari-hari semakin menyerupai mesin. Melakukan hal yang sama tanpa arti, tanpa arti akan kehidupan yang ‘kaya’ dan ‘sesungguhnya’. Sampai akhirnya ia menjadi tua. Is that all?

Pendidikan akan berguna ketika seseorang benar-benar mempergunakannya untuk lebih mengenal kehidupan lebih jauh. Keindahan sampai dengan kesengsaraannya, termasuk didalamnya alam yang begitu sempurna. Mungkin pendidikan bisa mendatangkan gelar, beberapa tambahan huruf pada nama kita, yang bisa berguna untuk mendapatkan pekerjaan, setelah itu? Menjadi semakin menyerupai mesin??? ^.^

Untuk apa pendidikan ketika ia hanya membawa ‘kebodohan’ bagi kita? Sehingga perasaan cemas, takut, dan khawatir akan hidup tetap menempel pada diri. Jadi, -menurut Khrisnamurti – selagi muda carilah makna kehidupan sedalam-dalamnya. Milikilah intelegensi, yaitu berpikir bebas, tanpa takut, tanpa rumus.

Jadilah dirimu sendiri untuk menemukan arti hidup yang sebenarnya. Jangan pernah takut untuk berbeda. Jangan pernah takut untuk mempertahankan ide. Ketika kesemua hal tersebut kita dapatkan dari berpikir bebas tentang hidup. Berpikir bebas bukan sekedar melakukan apa yang kita sukai, tapi lebih dari itu adalah untuk mengerti keseluruhan proses kehidupan!

Sayangnya lingkungan kurang mendukung kita untuk berpikir bebas. Sejak SD misalnya, kau tidak didukung untuk bertanya (apalagi tentang tuhan dan tradisi, ketika bertanya ‘mengapa?’ bisa langsung ditabok dan bilang ‘Udah ikutin aja! Who’s the master?!’ Haha). Padahal untuk berpikir sebebas-bebasnya diperlukan sebuah atmosfer kebebasan, tanpa rasa takut.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena mereka (yang tidak berpikir bebas) takut kalau ada orang-orang berpikir bebas, maka akan membawa bahaya bagi ‘kesalahan’ –pola pikir- mereka. Bahkan orang tua dan lingkungan mengurung kita untuk sebuah ‘comfort zone’ yang telah terbentuk berabad-abad. Hidup secara aman, tanpa kecaman pihak lain, namun tidak bebas. Tapi itu bukanlah hidup! Just immitating what’s been earlier! Hidup adalah mengetahui untuk dirimu sendiri apa yang benar!

To be educated is to discover, not to immitate! To LIVE is to discover the truth.

To LIVE is TO BE YOURSELF. (Lora)   berdasarkan buku ‘Think on These Things’ ; Khrisnamurti)
Sumber: http://ruangpsikologi.com

 

Laura Lois adalah seorang wanita lulusan Psikologi UI yang memiliki dedikasi tinggi dan disiplin terhadap bidang pekerjaannya. Beliau seorang komunikator yang mampu memikat audience. Saat ini Laura berkarir sebagai trainer dengan kualifikasi Certified NLP Coach, Certified Hypnotherapist, certified Time Line Therapy Practitioner dan Certified Emotional Freedom Technique.

Dapatkan Update PsychoShare.com terbaru via Twitter, Follow Kami di: