Membantu Anak Mengelola Stress

Oleh: Ubaydillah, AN

 

 

Persamaan & Perbedaan
Berdasarkan standar rasa yang umum, stress itu sama saja, mau itu bagi orang dewasa atau anak-anak. Rasanya pasti tidak enak, seperti sulit tidur, lebih agresif, lebih sensitif, munculnya ketegangan, pusing, atau menurunnya semangat hidup. Hal yang sama juga akan kita dapatkan pada bagaimana stress itu difungsikan. Menurut hukum kehidupannya, stress itu netral fungsinya, tergantung pada bagaimana stress itu akan difungsikan, mau yang ke positif atau yang ke negatif, terserah orangnya. Bedanya, orang dewasa mungkin sudah mengantongi sekian mekanisme mengenai bagaimana stress itu difungsikan, dari pengetahuan, pengalaman, atau keahliannya. Sementara, anak-anak mungkin hanya menguasai mekanisme yang masih sangat terbatas. Terkait dengan mekanisme fungsi itulah yang kemudian muncul istilah stress positif dan stress negatif, seperti  sering kita bahas di sini.
Stress positif adalah berbagai tekanan yang membuat kita lebih positif, akhirnya. Misalnya lebih terpacu mengejar target, ketuntasan, lebih kreatif, lebih disiplin, atau lebih matang, dan seterusnya. Sebaliknya, stress negatif adalah berbagai tekanan yang membuat kita semakin tertekan, semakin memburuk, baik secara fisik, intelektual, emosional, atau spiritual, lebih kacau, dan lebih mundur.
Ada hal lain lagi yang agak berbeda antara anak-anak dan orang dewasa dalam memahami stresssor. Beberapa kejadian tertentu yang mungkin bagi orang dewasa cukup menjadi stresssor, tapi bagi anak-anak biasa-biasa saja. Sebaliknya juga, mungkin ada kejadian yang bagi orang dewasa tidak begitu menjadi stresssor, tapi bagi anak-anak tidak begitu.
Perbedaan itu muncul karena perbedaan kepentingan, jangkauan pengetahuan, pemahaman, dan ilusi tentang hidup. Banyak relawan yang tidak menemukan tanda-tanda stress yang begitu gawat di anak-anak yang daerahnya menjadi korban bencana. Justru orang-orang dewasalah yang kelihatan stressnya.
stres anakBegitu juga dengan kasus perceraian orangtua. Seringkali yang suka ?%u20AC%u0153kasihan?%u20AC? itu orang-orang dewasa di sekitarnya atau yang menonton mereka di televisi. Mungkin saja anak-anak ini tidak meng-ilusi-kan kehidupan sekompleks orang dewasa. Cuma, walaupun aura stress itu tidak terlalu nampak, tapi perkembangan jiwanya sedikit banyak mengalami hambatan. Ini karena perkembangan anak itu sedikit banyaknya akan berhubungan dengan perkembangan orangtua. Logika sederhananya, kalau orangtua susah, anak juga ikut susah. Orangtua yang sedang stress sulit diharapkan memiliki hubungan yang bagus dengan anak-anak, padahal hubungan itulah yang sangat berperan.
Stresssor Bagi Anak-anak
Dalam beberapa hal yang sangat spesifik, anak-anak memiliki sumber stresssor yang berbeda dengan orang dewasa. Seperti yang sudah kita singgung di atas, mungkin ini lebih terkait dengan alamnya, kebutuhannya, atau jangkauannya. Sumber stresssor yang spesifik untuk anak itu antara lain adalah pelajaran sekolah. Pelajaran sekolah bisa berpotensi menjadi stresssor ketika pelajaran itu diberikan dalam jumlah yang banyak, dalam waktu yang sangat pendek, atau dengan cara yang mengandung ancaman menurut pemahaman anak.
Meskipun sebetulnya dia mampu mengerjakannya atau punya kapasitas untuk menyelesaikannya, tapi soal jumlah, waktu, dan cara bisa menimbulkan persoalan. Banyak anak yang nilainya jeblok padahal dia sebetulnya bisa. Ini mungkin mirip seperti stress kerja pada orang dewasa, dimana ada beban / tekanan yang imbalance dengan kapasitas dan sumber daya.
 
Sistem pengajaran di sekolah-sekolah sekarang ini berbeda dengan zaman kita dulu, yang ujiannya hanya dua kali setahun. Mereka bisa 4 kali sampai lebih. Kalau guru A besoknya menjadwalkan ujian, lalu guru B memberi PR yang jumlahnya banyak, bisa saja memunculkan stress pada anak.
Hal lain yang juga kerap menjadi sumber stresssor adalah pergaulan.  Di sekolah yang sebagus apapun, tetap saja ada ruang pergaulan yang di luar jangkauan kontrol guru. Bedanya hanya pada besar-kecilnya ruang itu. Semakin bagus sekolah, maka kontrolnya semakin bagus juga, kira-kira.
Namanya juga anak-anak, mungkin ada di antara mereka itu yang punya bawaan pelaku bullying (penindas), mungkin juga ada yang membawa ciri-ciri korban bullying (lemah, kalahan, dst). Pergaulan yang mengandung ancaman, ketakutan, tidak seimbang, dan lain-lain, sangat mungkin menimbulkan stress.
Hal lainnya lagi adalah pengasuhan atau keadaan keluarga.  Model pengasuhan yang sudah didekte oleh ambisi yang berlebihan, amarah yang berlebihan, atau iri dengki terhadap anak lain, sangat mungkin menjadi stresssor.
Sikap orangtua yang cuek sampai menciptakan hubungan yang dirasakan oleh anak sebagai ketidakpedulian juga berpotensi menjadi stresssor. Hubungan suami istri yang dilanda konflik tidak sehat, lebih-lebih menahun, juga berpotensi menjadi sumber stresssor ketika semua itu sudah merembet pada buruknya hubungan orangtua-anak.
Untuk anak yang sedang ?%u20AC%u0153apes nasibnya?%u20AC?, tidak menutup kemungkinan akan menjadi depresi atau stress yang semakin menggunung dan berlangsung lama. Misalnya saja, sudah orangtuanya bertengkar terus secara tidak sehat, gurunya galak-galak pula. Sudah begitu, dia sedang ada problem dengan temanya dan PR-nya menumpuk. Ini yang sangat perlu kita antisipasi.
Di sisi lain, kita juga tetap perlu berpikir bahwa tidak  semua stressor itu jelek bagi anak kita. Barangkali itulah proses hidup yang harus dia lewati atau ?%u20AC%u0153pendidikan Tuhan?%u20AC?. Tinggal kita mengarahkan bagaimana menyikapi pendidikan Tuhan itu secara positif supaya mendapatkan benefit yang positif.
Terlalu cepat mengambil tanggung jawab dari anak dalam menghadapi stressor (protektif), tidak berarti akan menjamin hasil yang bagus. Bahkan mungkin akan membuat anak miskin pengalaman hidup yang pada dasarnya buruk buat anak.
Beberapa Gejala Stress Pada Anak-anak
Dari sejumlah pemaparan ahli, ada beberapa gejala yang umum yang bisa kita pakai sebagai reminder / perhatian apakah anak kita sedang menghadapi stresssor atau tidak. Atau, setidak-tidaknya, kita perlu mengintensifkan dialog untuk memverifikasi atau mengkonfirmasi perasaannya.
Untuk anak-anak yang masih duduk di bangku SD, beberapa gejala itu antara lain:
  1. Enggan masuk sekolah
  2. Berbohong tanpa alasan yang bisa diterima akal sehat
  3. Mencuri yang merupakan indikasi adanya pelampiasan kengawuran (losing control)
  4. Tidak semangat belajar atau kurang konsentrasi belajar
  5. Hilangnya semangat hidup sehingga rewel, ngambekan, atau tidak berdamai dengan keadaan
  6. Sikap cenderung lebih menentang
  7. Hiperaktif
  8. Ngompol
  9. Problem makan
  10. Mudah mengeluhkan rasa sakit, seperti pusing, sakit perut, atau rasa sakit yang lain
Bagi anak-anak yang sudah mulai menginjak usia remaja, mungkin akhir kelas 6 atau awal masuk SMP (kelas 7), gejala yang perlu kita amati antara lain: sakit-sakitan atau mengalami banyak keluhan fisik, ada problema tingkah-laku, misalnya nakalnya menonjol, rasa malu berlebihan, ketakutan atau kekhawatiran, mudah tersinggung atau cepat kehilangan kontrol diri, atau malas-malasan belajar.
Jika dia punya kegiatan di luar rumah yang di luar kontrol orangtua, atau terlalu bebas, ini mungkin akan berpotensi sangat membahayakan mereka. Banyak bahaya yang ditelan remaja karena awalnya dari pengaruh pergaulan.
Beberapa Cara Membantu Mereka
Di luar dari apa yang perlu kita lakukan untuk membantu anak-anak, yang perlu kita tanyakan lebih dulu adalah apa yang mereka pikirkan untuk mengatasi masalahnya. Tujuan pertanyaan itu bukan untuk menemukan jawaban yang paling bagus menurut kita, tetapi untuk melatih mereka memunculkan kemandirian, minimalnya dalam berpikir.
Supaya suasana dan prosesnya eksploratif dan kreatif, yang perlu kita hindari adalah menghakimi jawabannya atau menunjukkan sikap yang meremehkan, seolah-olah jawabannya itu tidak berbobot, atau langsung memotongnya. Justru yang perlu kita tunjukkan adalah menjadi pendengar yang baik dan merangsang mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka terpacu untuk berpikir bagaimana menemukan solusi dari masalahnya.
Khusus untuk masalah pergaulan, mau itu dengan  teman atau guru, yang perlu kita hindari adalah membelanya habis-habisan atau menyalahkannya habis-habisan. Membela tanpa alasan dapat melemahkan mentalnya.
Sebaliknya, menyalahkan anak yang sedang terkena masalah dapat memunculkan perasaan nobody helps them. Yang perlu kita lakukan adalah fokus pada persoalan dan bagaimana persoalan itu diselesaikan dengan cara yang membuat dia lebih pintar atau lebih matang. Untuk hal-hal yang perlu kita lakukan sebagai bantuan, kita bisa memformulasi strategi atau langkah berdasarkan kebutuhannya. Sekedar sebagai acuan / pilihan, kita bisa mengacu pada poin-poin di bawah ini:
  1. Mengantisipasi: membantu mereka mengerjakan PR atau mengajari cara-cara belajar yang lebih mudah, menjalin hubungan yang lebih cooperative dengan guru kelas, sering-sering berdialog agar cepat terdeteksi masalahnya, menunjukkan perhatian dan dukungan  yang tulus. Ini bisa mengantisipasi stresssor.
  2. Mengarahkan, misalnya menjelaskan makna atau mengarahkan sikap positif. Ini pas digunakan untuk menjelaskan stresssor yang memang harus diterima, misalnya kematian, bencana, atau kepergian sahabat.
  3. Memperbaiki mekanisme atau  siasat mental. Ini pas untuk melatih anak yang sedang punya masalah pergaulan yang menurut kita masih belum saatnya didiskusikan dengan pihak sekolah
  4. Memotivasi atau membesarkan hatinya yang diikuti dengan program nyata. Misalnya nilainya jatuh atau dihukum sekolah karena keteledorannya. Yang perlu kita lakukan adalah mengajak dia untuk meningkatkan kuantitas atau kualitas belajarnya. Tanpa program yang nyata, bisa-bisa kita membohongi mereka.
  5. Melaporkan ke sekolah / guru. Ini jika di kelas sudah terjadi praktek bullying yang didiamkan atau di luar kontrol guru. Kalau ada anak lain yang juga menjadi korban, kita perlu ajak orangtuanya untuk mendiskusikan solusinya dengan pihak sekolah. Tapi, karena anak-anak, maka fokus kita adalah problem dan solusi, bukan ke anaknya.

 

Ada konsep pendek yang bisa kita terjemahkan sevariatif mungkin untuk membantu mereka dalam mengatasi stress. Sebenarnya ini juga pas buat orang dewasa seperti kita. Konsep yang yang pendek itu adalah:
  1. Membiarkan, untuk hal-hal yang sudah tak mungkin diubah.
  2. Melakukan sesuatu, untuk hal-hal yang memang harus diubah atau masih bisa diubah
  3. Mengantisipasi kejadian atau akibat yang bisa menjadi stresssor.
Cuma, semua itu butuh proses. Tidak bisa kita menyuruh anak untuk melupakan atau membiarkan sesuatu yang ia anggap itu menekan dirinya. Membiarkan pun butuh proses. Dalam banyak hal, peranan waktu menjadi penting.
Beda Generasi Beda Stressor
Sepertinya kurang pas jika kita selalu berpikir anak-anak kita itu sudah jauh dari stressor karena hidupnya sudah jauh lebih enak dibanding kita dulu. Dalam beberapa hal, memang mereka lebih enak dibanding kita, tetapi untuk hal-hal tertentu, dia tidak lebih enak dibanding kita.
Dulu, problemnya kita mungkin kurangnya fasilitas, seperti sekolah harus jalan kaki berkilo-kilo. Tapi sekarang ini problemnya macet dan tuntutan kompetensi serta kompetisi. Banyak anak kecil yang harus bekerja keras untuk sekolah. Intinya, setiap generasi itu ada masalahnya sendiri dan ada peluangnya sendiri. Tuhan menyebut diri-Nya sebagi Pendidik alam semesta. Sebagai Pendidik, pasti akan membedakan masalah dan peluangnya. Semoga bermanfaat.

 

Dapatkan Update PsychoShare.com terbaru via Twitter, Follow Kami di: