Benarkah Kita akan Bahagia dengan Menikah?

Adanya kehadiran pasangan membuat perempuan akan merasa bahagia dan tidak akan merasa sendiri. Keberadaan dari pasangan juga membuat self-esteem kita naik tanpa disadari. Tetapi untuk jangka waktu yang panjang, apakah seorang perempuan akan terus bisa menerima dirinya bahwa ia bahagia?

Bila dibandingkan dengan perempuan lajang yang berusia 30-40 tahun, belum tentu mereka yang menikah sudah pasti lebih bahagia daripada yang tidak memiliki pasangan.

Kebahagiaan dari sebuah pernikahan bisa bermacam-macam, tidak hanya dilihat dari kebahagiaan dari suami dan istrinya saja. Bradburn (1969) mendefinisikan kebahagiaan sebagai keseimbangan antara perasaan positif dan negatif (Stack & Eshlemen, 1998), sehingga pernikahan yang bahagia adalah pernikahan dimana sepasang suami istri serta anak-anaknya mampu menyeimbangkan kesenangan dan kekurangan mereka masing-masing.

Dalam beberapa penelitian tentang marital happiness, peneliti memasukkan beberapa indikator yang dapat mendefinisikan tingkat kebahagiaan dari sebuah pernikahan, yakni tahap kehidupan keluarga, kehadiran dari seorang anak, lamanya pernikahan, pernikahan kembali atau remarriage, status pekerjaan dari istri, dan sikap terhadap pengaruh gender (Schafer et al, 1996). Sebuah keluarga biasanya akan bahagia jika saja hal-hal tersebut bisa teratasi dengan baik tanpa adanya perbedaan yang mampu mempengaruhi kualitas kebahagiaan dari keluarga tersebut.

Sebagai perempuan, terutama yang sudah berstatus istri ataupun ibu, harus bisa mempertimbangkan indikator-indikator tersebut sehingga dapat menemukan keseimbangan diantaranya. Penelitian yang dilakukan Stack dan Eshleman (1998) mengatakan bahwa sebuah pernikahan akan mengeluarkan output berupa kebahagiaan jika dilalui oleh 2 proses, yaitu kepuasan finansial dan peningkatan kesehatan. Ibu yang berorientasi kepada kesejahteraan keluarganya akan mengedepankan 2 proses ini sebagai tujuan hidupnya dalam menghidupi keluarganya.

Bagaimana kepuasan finansial dapat tercapai? Banyak yang mempermasalahkan tentang status kerja seorang istri, yang disatu sisi suami ingin istri mengurus rumah dan juga anak-anaknya, di sisi lain istri juga ingin memperoleh pendapatan tersendiri guna membantu suami dalam mencari uang. Tetapi dari semua itu, tergantung pada bagaimana mereka mengaturnya sehingga bisa mendapatkan tingkat kebahagiaan dalam pernikahan yg mereka inginkan. Penelitian yang dilakukan oleh Robert Schoen et al. (2002) menjelaskan bahwa status kerja seorang istri tidak berpengaruh pada peningkatan masalah dalam pernikahan bila mereka pada dasarnya bahagia. Penelitian lain oleh Rogers & DeBoer (2001) menemukan bahwa peningkatan pendapatan yang dihasilkan oleh istri menurunkan risiko perceraian dengan suami, karena adanya peningkatan tingkat kebahagiaan dari istri.

Jika dibandingkan dengan wanita lajang, berdasarkan penelitian tersebut juga tidak menutupi kemungkinan bahwa mereka bisa bahagia walau tidak memiliki pasangan. Mungkin dengan sifatnya yang self-oriented dan juga tidak terlalu memikirkan bahwa memiliki pasangan merupakan kewajiban yang harus dilakukan mampu membuat dirinya lebih percaya diri dan dapat meningkatkan self-esteem. Dengan kata lain, untuk memperoleh kebahagiaan, wanita tidak harus melaksanakan kewajibannya sebagai perempuan, tetapi bagaimana ia mengatur dan meregulasi emosinya sebagai wanita lajang untuk bisa bahagia.

Bagaimana dengan kesehatan? Beberapa studi mengatakan bahwa pasangan suami istri yang bahagia menunjukkan tingkat frekuensi yang rendah untuk berkunjung ke dokter dan juga mempunyai tekanan darah yg lebih rendah dibandingkan wanita-wanita yang tidak bahagia dalam pernikahannya. Studi yang dilakukan melalui fMRI, yakni, sebuah alat yang digunakan untuk melihat aktivitas otak, mengatakan bahwa pasangan yang bahagia menunjukkan aktivitas di beberapa bagian otak yang juga terasosiasikan dengan dopamine, yang notabene adalah zat kimia organik yang dapat mengontrol bagian otak dan berhubungan dengan kesenangan, ketenangan, dan kenikmatan.

Peran dari seorang istri dalam penentuan kebahagiaan di dalam keluarga sangat esensial, dilihat dari perannya dalam membantu suami untuk bisa mencapai tahap kebahagiaan yang maksimal. Tentunya dalam proses pencapaian tahap tersebut, adanya dukungan dari pasangan yang penuh kasih sayang dengan keluarganya menjadikan keluarga tersebut berpotensi untuk mencapai level kebahagiaan yang diinginkan.

Intinya bukan pada status sosial dari seorang perempuan untuk bisa bahagia, tetapi status emosi yang dimiliki oleh perempuan tersebut. Tidak masalah jika mereka tidak mengikatkan diri kepada orang lain. Bila dengan begitu masalahnya terpecahkan, mengapa tidak dilakukan? ?

Sumber yang dipakai:

Kirschner, D. (2010). Marital Satisfaction, Health & Happiness. Psychology Today. Retrieved from: http://www.psychologytoday.com/blog/finding-true-love/201007/marital-satisfaction-health-happiness on Mar 31 2012.

Schafer, et al. (1996). Self-Concept Disconfirmation, Psychological Distress, and Marital Happiness. Journal of Marriage and Family, 58 (1), 167.

Schoen, R. et al. (2002). Women’s Employment, Marital Happiness, and Divorce. Social Forces, 81 (2), 643-662.

Stack, S. & Eshlemen, J. R. (1998). Marital Status and Happiness: A 17-nation study. Journal of Marriage and Family, 60 (2), 527-536.

Sumber: http://ruangpsikologi.com

Dapatkan Update PsychoShare.com terbaru via Twitter, Follow Kami di: